Posted by: tiwiebagio | November 4, 2009

Malam itu Malamku

Malam itu adalah malamku

Ketika aku bertemu lagi denganmu

Sejak itu kamu seperti jadi hantu

Bagi hatiku yang kian tak menentu

Hingga aku tak punya alasan

Untuk tak menerima

Isyarat cinta yang kau kirimkan berkala

Sekarang aku cuma mau bilang

Aku sedang dibekap rindu,

Jadi tolong, jangan berhenti menghantuiku.

 

Baciro, 301009 16.45

Posted by: tiwiebagio | August 11, 2009

Rumah Remang-Remang

Hampir di setiap daerah perbatasan di Indonesia, terutama di jalan lintas propinsi, sering ditemukan fenomena “Warung Remang-Remang”. Disebut remang-remang, karena warung ini memang hanya difasilitasi listrik seadanya. Para pengguna jalan kerap memanfaatkan warung ini untuk melepas lelah, minum kopi sejenak agar mata tetap cerah selama bepergian jauh. Tapi belakangan warung ini diimbuhi konotasi negatif. Pasalnya, selain karena penerangannya kurang, letak tempat ini lumayan terpencil, terlindung belukar bertungkai tinggi atau bahkan di area hutan. Tak jarang, warung “remang-remang” dijadikan lokasi praktik prostitusi ilegal.

Di Kalimantan Selatan (Kalsel), tempat yang “remang-remang” bisa Anda temukan di hampir seluruh wilayah propinsi ini. Di desa maupun kota, di waktu-waktu tertentu rumah remang-remang pasti ada. Bukan karena praktik prostitusi sudah sedemikian merajalela. Tidak pula karena Kalsel masih banyak hutannya. Tapi, rumah ini benar-benar remang-remang. Harfiah tanpa listrik, denotatif cuma diterangi cahaya lilin.

Pemadaman listrik bukan fenomena baru bagi warga Kalsel. Ini sudah jadi isu basi, langganan, dulak, kata warga Banua. Bertahun-tahun lamanya kita harus berteman dengan lilin, lampu teplok, dan genset bagi mereka yang cukup mampu. Padahal, wilayah Kalsel sekarang tengah bertumbuh. Lebih maju dan lentur pada modernitas. Peta industri dan perekonomian yang tadinya baru diangankan kini kian tergambar jelas. Begitu juga dengan potensi pendidikan dan pariwisata yang berkembang dengan asas optimalitas.

Para siswa terpaksa belajar hanya diterangi lampu teplok kala pemadaman listrik tiba. Sumber foto: banjarmasinpost.co.id

Para siswa terpaksa belajar hanya diterangi lampu teplok kala pemadaman listrik tiba. Sumber foto: banjarmasinpost.co.id

Sayangnya, kondisi yang berindikasi positif ini masih harus terjegal masalah ketersediaan listrik. Sektor industri yang sedang semangat bergiat harus berhemat. Para pelajar pun terpaksa belajar di bawah lampu petromaks kala ujian mendekat. Repotnya, pemadaman listrik bisa terjadi kapan saja. Bisa dua hari sekali, sehari dua kali, atau seharian penuh kita harus hidup tanpa pasokan listrik sama sekali. Tak bisa diduga, hanya PLN dan Allah Swt saja yang mengetahuinya jadwalnya.

Tentunya, pemadaman listrik ini terjadi bukan tanpa sebab. PLN Kalsel memiliki dua pembangkit listrik terbesar, yang sepanjang waktu harus dirawat agar tak rusak. Ketika melakukan perawatan pada salah satu pembangkit, otomatis pembangkit tersebut tak bisa digunakan. Lalu pasokan listrik pun hanya bisa mengandalkan dari pembangkit listrik yang satunya. Maka, logis terjadilah pemadaman, karena aliran energinya memang tak cukup untuk menerangi seluruh Kalimantan Selatan. Isu kekurangan bahan bakar batubara untuk menjalankan pembangkit listrik juga pernah mengemuka, dan membuat kita bertanya-tanya. Bukankah tanah kita kaya akan batubara?

Amat ironis jika menyaksikan cita-cita Banua yang sudah merangkul modernisasi, masih harus mengalami byar-pet. Seperti kembali ke tahun ‘60-‘70an waktu listrik baru masuk desa. Efek domino pun terjadi dari pemadaman yang tak berhenti ini. Industri di berbagai bidang jadi kerepotan. Pabrik pupuk, tepung tapioka, atau pengalengan udang jadi tak bisa mencapai target produksi. Begitu juga sektor perdagangan, media, bank, pelabuhan, dan sebagainya.

Sebutlah sektor-sektor ini bisa menggunakan genset untuk mengganti pasokan listrik. Tapi ini tak serta merta memecahkan masalah. Bagaimana dengan pelaku ekonomi kecil-menengah dan para pelajar? Belum lagi angka musibah kebakaran yang meningkat (dan tentu saja memakan korban jiwa dan harta), peralatan elektronik yang rusak, dan sebagainya.

Pertanyaannya kemudian adalah, sampai kapan kondisi ini harus berlangsung? Sementara, fasilitas yang diberikan pemerintah melalui PLN belum pernah sebanding dengan jumlah kerugian yang menimpa warga. PLN jelas tak akan ganti rugi jika ada musibah kebakaran dan ratusan juta melayang.

Mestinya ada peraturan yang lebih bijak mengenai ini. Potongan atas pembayaran listrik, misalnya. Rasanya tak adil ketika warga sudah berusaha menjalankan kewajiban membayar tagihan listrik, namun masih saja menjadi korban pemadaman yang semena-mena.

Mengurangi listrik industri pun bukan solusi terbaik. Jika pemerintah benar-benar sudah tak mampu menyediakan cadangan listrik, masyarakat terutama pelaku industri bisa membeli langsung tenaga listrik dari swasta.

Pada akhirnya ini adalah soal iktikad baik. Sejauh mana pemerintah dan PLN bersungguh-sungguh memberi pelayanan terbaik pada masyarakat? Lengkap dengan fasilitas yang murah dan mudah. Apalagi sebentar lagi Ramadhan datang. Akan sangat mengganggu jika warga harus sahur, berbuka, dan shalat tarawih dalam keadaan remang-remang.

Atau mungkin PLN sedang menantang kita untuk menjalankan ibadah Ramadhan dengan lebih khusyuk. Dengan beribadah dalam keremangan, mungkin kita bisa meresapi bagaimana Rasulullah dan para sahabat beribadah tunduk kepada Allah dalam keterbatasan. Toh aktivitas ibadah mereka tak pernah diterangi cahaya cukup. Di zaman itu, Rasulullah belum mengenal listrik, bukan?

Lalu, siapkah Anda, keluarga, roda industri, dan barang elektronik Anda menghadapi tantangan ini?

Tabik.

*Dimuat di Harian Banjarmasin Post edisi 11 Agustus 2009 hal. 25 dengan sedikit penyuntingan

Posted by: tiwiebagio | July 31, 2009

Tiga Lagu Saja Cukup

Tiba-tiba sudah akhir bulan Juli. Saya jadi merasa berutang. Dulu sekali ketika saya mengaktifkan kembali blog ini, saya berjanji pada diri sendiri untuk secara rutin memposting tulisan. Minimal ada 2 tulisan selama satu bulan.

Dan sekarang Juli sudah benar-benar sampai di penghujung. Dan posting bulan ini baru ada 1, itu pun sebuah obituari untuk almarhumah nenek saya tercinta.

Baiklah, sekarang akan saya bayar utangnya. Saya ingin bercerita.

Pertengahan bulan Juni lalu (gila, ini pula seharusnya jadi konsumsi publik bulan lalu, aih!), saya berkesempatan menginjak kota Jakarta. Keperluan saya di kota bising ini adalah untuk menghadiri pernikahan salah seorang abang sepupu. Ia tinggal di Bekasi. Saya berangkat ke Jakarta menggunakan jasa penerbangan kelas ekonomi. Sampai di bandara, saya harus menunggu ayah saya yang datang dari Pekanbaru. Sejam menunggu, saya dan ayah akhirnya bertemu.

Sudah cukup malam kala itu, sekitar jam sembilan. Dari Cengkareng, saya dan ayah menumpang shuttle bus bandara merek DAMRI yang akan berhenti di Terminal Bekasi Timur. Di sanalah ibu saya menunggu bersama supirnya sepupu saya. Maka malam itu saya dan ayah menghabiskan malam di atas bus. Saya, tentu saja, tertidur dengan pulasnya.

Tiba-tiba,

Gonjreeeeng….

Saya langsung melek. Beberapa meter sebelum masuk pintu tol Bekasi Timur, seorang pengamen meloncat ke dalam bus. Saya langsung ilfil. Heran, masa pengamen boleh masuk ke shuttle bus bandara sih?Aduh, mana dia berdiri tepat di deretan kursi saya dan ayah, lagi. Tepatnya, ia bersandar membelakangi kami.

Maka, sementara abang pengamen itu menyampaikan salam pembuka, saya dan ayah mulai manyun bersungut-sungut, merasa terganggu oleh musisi jalan raya itu. Pada detik berikutnya, di gonjrengan yang kedua dari gitar si Abang, sesungut kami hilang seketika. Pasalnya, si Abang menyanyi dengan sangat baik. Suaranya enak disimak, perpaduan antara Iwan Fals dan Ipank BIP. Ditingkahi oleh permainan gitar yang nyaman didengar dan penghayatan yang menghanyutkan.

Selama si Abang menyanyi, seluruh bus hening menyimak. Kami, seluruh penumpang itu, bisa dibilang sangat menikmati suguhannya. Dia sopan, artikulasinya jelas, minim aksen sengau artifisial yang biasanya dilakukan pengamen lain yang saya tahu. Pilihan lagunya pun sangat pas. Malam-malam jam 11, letih setelah mengarungi angkasa luas lalu mengantri bus, pasti yang Anda ingin dengar adalah lagu dengan beat rendah yang mengalun tenang. Supaya bisa rileks.

Lagu pertamanya, saya lupa judulnya. Pokoknya liriknya begini:

Kau ada yang memiliki

Ku ada yang memiliki

Walau kita masih saling menyayangi…

Itu lagu yang dinyanyikan oleh Trie Utami dan Utha Likumahua. Lagunya enak kan ya?

Lagu kedua, “Kaulah Segalanya” milik Ruth Sahanaya. Lalu pertunjukan malam itu ditutup oleh “Here in Heaven”-nya Eric Clapton.

Mau tak mau saya harus mengakui. Abang ini tulen musisi. Ia menyanyi dengan hati. Ia memahami audiens.

Selagi menikmati suguhan musik si Abang, dari balik punggungnya, dari balik leher gitarnya, saya melihat jari telunjuk dan jari tengah yang ujungnya menebal dan menghitam.

bisakah Anda lihat dua ujung jari yang mengapal itu?

Bisakah Anda lihat dua ujung jari yang kapalan itu?

Saya tertegun. Sudah berapa ratus lagu yang ia nyanyikan sepanjang profesinya sebagai pengamen ya? Sudah berapa dalam senar-senar gitar itu menekan jemarinya hingga ujung-ujungnya jadi bebal dan mengapal begitu?

Saya tahu mungkin ini rada lebay. Ribuan pengamen di Indonesia juga mungkin memiliki ujung jari yang sama. Tapi entahlah, saya benar-benar respek sama Abang yang satu ini. Biasanya saya mau mendengarkan secara sukarela hanya jika ada pengamen yang menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals dengan benar. Namun yang ini kasus khusus.

Selesai menyanyikan lagu ketiga, tepat ketika terminal bus Bekasi Timur tinggal beberapa ratus meter lagi, si Abang menyudahi konser tunggalnya. Tanpa banyak basa-basi ia memberikan sambutan penutup lalu mulai beredar dari kursi terdepan.

Saya dan ayah sudah menyiapkan sejumlah uang sepantasnya sebagai penghargaan atas usahanya malam ini. Ketika ia sampai di deretan kursi di depan saya dan ayah, seorang bapak berkata: “Satu lagu lagi dong, kan masih sempat. Itu terminalnya masih jauh,” pinta sang bapak. Sambil tersenyum sopan ia bilang, “Terimakasih, tiga lagu saja cukup, pak…” lalu berjalan ke arah deretan kursi saya dan ayah.

Sembari juga tersenyum kami memasukkan sejumlah uang ke dalam kantong permen. Setelah sejumput terimakasih ia berlalu.

Saya yakin, semua orang di atas bus malam itu benar-benar menyukai permainannya. Ia benar-benar menyanyi, bukan menggumam. Tak banyak basa-basi, pun tak berbau alkohol. Beberapa komentar positif lain dilayangkan pada sang pengamen, dan ia menerimanya dengan senyum. Ah, andaikan saja ada seorang produser musik yang ikut dalam bus malam itu, mungkin ia sudah diajak rekaman.

Eh tapi jangan ding. Kalau musisi macam dia diajak rekaman, kemungkinan besar dia hanya akan dijadikan alat penyedot uang dengan menyanyikan lagu-lagu mendayu-dayu dan menye-menye seperti yang menjamur belakangan ini. Jika dia masuk dapur major label, mungkin dia akan kehilangan pesonanya. Menyanyi tanpa jiwa. Jangan ah, nanti tak ada lagi yang bisa menyuguhkan pertunjukan musik yang datangnya benar-benar dari hati…

Tabik.

Posted by: tiwiebagio | July 2, 2009

Cucu Yatim Piatu

Dalam memori masa kecil saya terekam,

Ia pernah menjadi sosok yang menyenangkan.

Saya diajaknya jalan-jalan,

Dibelikan baju dan mainan.

Dia membuat tugas mengarang dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan topik “Berlibur di Rumah Nenek” menjadi mudah dikerjakan. Keberadaannya membuat dongeng-dongeng mengenai kedekatan cucu dan neneknya bagi saya menjadi relevan.

Setiap saya berlibur di rumah nenek, beliau memfasilitasi saya dengan pengalaman mengaji Al-Quran, ikut ke pasar membeli bahan makanan, sampai dibelikan mainan untuk bermain masak-masakan.

Caranya mendidik anak tak terlalu ingin saya tiru

Tapi soal daya lentur merespon penderitaan dan keterbatasan,

Bagi saya dia adalah guru.

Dia seorang pejuang tangguh. Hidup nenek, suami, dan anak-anaknya (termasuk ibu saya), dulu tak terlalu makmur hingga bisa berfoya-foya. Namun mereka bisa menjalani hidup dengan bahagia.

Nenek petualang sejati. Beliau merantau hanya berdua dengan tante saya (adik bungsu ibu saya) ke Surabaya, hidup bertahun-tahun di sana. Tanpa sanak saudara. Beliau kerap menyambangi kerabat, pergi haji sendiri tanpa suami di usia lebih setengah abad, dan kembali dengan selamat.

Dia nenek saya, dan dia telah tiada.

Usia 80 tahun sudah cukup bagi beliau menyaksikan dunia.

Nafas terakhirnya pun dihembus dengan kelegaan dan ketenangan yang sempurna.

Beliau pergi di kedalaman tidur. Hari ini 2 Juli 2009 sekitar pukul 01.00 WITA, khadimat ibu saya yang bernama Mak Ipah mendapati tubuh dingin beliau di ruapan hangat kamarnya yang berukuran 3×3.

Beliau pergi sendirian, tanpa teman, tanpa tangisan anak dan cucu di hadapan, namun insya Allah dalam bimbingan Allah Yang Maha Rahman. Nenek memang pergi dalam wujud manusia yang lemah. Namun, semoga beliau disambut dengan meriah di sisi Allah dan malaikat-malaikat-Nya.

Semasa hari tua, nenek hanya mau tinggal bersama ibu saya ketimbang anak-anaknya yang lain. Di rumah saya kerap terdengar bunyi bel (suaranya seperti bunyi bel yang Anda pencet ketika ingin bertamu ke rumah seseorang). Jika bel berkumandang, artinya nenek sedang memerlukan bantuan: mau pergi ke toilet, mengambil minuman, memasang mukena untuk shalat sambil berbaring, berganti pakaian, dan lain-lain. Dulu, bunyi bel itu terasa mengganggu waktu saya sedang terlelap tidur siang. Sekarang, bisa saya pastikan, rumah itu akan menjadi sangat lengang.

Sayang saya tak bisa pulang untuk mengantarkan beliau untuk terakhir kali. Permintaan tiket pesawat yang terlalu penuh di masa liburan membuat upaya saya mentah, dan tak bisa menghampiri jasad nenek sebelum dzuhur tadi. Ternyata, empat bulan yang lalu, adalah kesempatan terakhir bagi saya untuk memandang dan menyentuh raganya yang kini tak bisa saya pegang lagi.

Baiklah. Tak mengapa. Insya Allah jarak tak bisa memutus doa saya. Tapi dengan ini saya resmi jadi “cucu yatim piatu”, menyandang status cucu namun tak punya satu pun kakek atau nenek. Dua kakek saya sudah lebih dulu berpulang ketika saya bahkan belum dilahirkan. Sementara, nenek saya dari ayah menutup mata waktu saya kelas tiga (dan masih belum tau apa-apa. Bayangkan, ketika nenek meregang nywa, sempat-sempatnya saya berburu belalang di taman rumah sakit???).

Maka, panggilan “cucu” terasa menggaung di benak saya. Menggema. Hampa. Sudah tak ada yang akan memanggil saya dengan kata itu.

Ya sudah. Nenek sudah dimakamkan tadi siang. Sudah tenang. Selamat jalan, nenekku sayang… Sampaikan salam saya kepada Kakek, suami yang telah lama engkau rindukan…

Tabik.

Posted by: tiwiebagio | June 16, 2009

Antara Kebebasan dan Undang-Undang

Kasus Prita Mulyasari yang dijebloskan ke penjara ‘hanya’ karena curhat-nya lewat e-mail telah mengundang kontroversi. Untuk kesekian kalinya, aparat penegak hukum dinilai tak becus dalam membuat undang-undang, apalagi menggunakannya.

Naasnya nasib Prita berpangkal pada surat elektronik yang dikirimkannya kepada 10 orang kawan. Dalam surat itu, ia menceritakan pengalaman tak menyenangkan yang dialaminya ketika berobat di RS Omni Internasional. Ia mengeluhkan pelayanan medis maupun administrasi RS Omni yang menurutnya tak ramah dan justru membawa masalah bagi kesehatannya.

Dari yang disebarkan hanya kepada 10 orang teman dekat, secara ‘misterius’ surat itu terus menyebar dari milis ke milis, orang per orang, hingga sampailah ke kotak surat elektronik pihak RS Omni. Di sinilah mula sengketa Prita dengan RS Omni. Bagi pihak RS, surat ini telah mencemarkan nama baik RS bertaraf internasional tersebut. Jadilah Prita digugat secara pidana berdasarkan Pasal 310-311 KUHP, yang tak lain pasal pencemaran nama baik.

Sidik punya selidik, pasal yang digunakan untuk menggugat Prita rada melar. Tak hanya lewat KUHP, Kejaksaan juga menggunakan pasal 27 UU Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 14 Tahun 2008, yang juga berkenaan dengan perkara pencemaran nama baik, untuk menjerat Prita. Bahkan ada dugaan, pasal inilah yang akhirnya menggiring Prita ke pintu penjara.

Mendadak Prita dan UU ITE menjadi sorotan. Prita menarik simpati masyarakat yang gemas pada aparat, masak hanya karena mengirim surat yang isinya curhat, bisa-bisanya seorang ibu rumah tangga dijerat kasus pidana dan dimasukkan ke dalam penjara? Di sisi lain, keberadaan UU ITE menuai protes, dan resistensi khalayak terhadap undang-undang pun jadi meningkat. Tak main-main, banyak yang menyarankan agar UU ITE dicabut saja dari peredaran.

Beberapa pengamat hukum menyatakan, penggunaan UU ITE untuk menyelesaikan kasus Prita dengan RS Omni tidaklah tepat. Eddy OS Hiariej, Pengajar Hukum UGM Yogyakarta dalam artikelnya di Harian KOMPAS (5/6), menulis bahwa dilihat dari sifat e-mail Prita yang bersifat pribadi, pengenaan pasal 27 UU ITE menjadi tak relevan. Meski mengandung tuduhan bahwa Rumah Sakit Omni Internasional telah melakukan penipuan, namun Prita mengirimkannya kepada teman-teman dekat. Artinya, Prita tak bermaksud sengaja menyebarluaskan tuduhan itu kepada umum. Menurut saya, menyebarnya e-mail Prita didasari oleh rasa simpati orang-orang yang menerimanya, atau bahkan karena adanya kesamaan pengalaman pada si penerima e-mail. Dalam ilmu komunikasi, kesamaan pengalaman (field of experience) menjadi alasan mendasar terjadinya proses komunikasi dan pertukaran informasi.

Isu terbesar mengapa khalayak dan para pengamat hukum gerah atas kasus Prita adalah penggunaan pasal-pasal pencemaran nama baik alias belediging. Pasalnya hingga detik ini, belum ada kriteria yang berlaku umum mengenai batas-batas terminologi ‘pencemaran nama baik’ itu sendiri. Karenanya, dalam regulasi negara kita, pasal-pasal dalam undang-undang apapun yang berkaitan dengan praktik pencemaran nama baik dan perlakuan tidak menyenangkan selalu menjadi pasal karet, terlalu lentur dan mudah terjadi multi interpretasi atasnya. Sebab, batas orang per orang dalam menentukan mana yang membuatnya tak nyaman atau tercemar nama baiknya, sangatlah relatif.

Sebagai orang yang pernah belajar ilmu komunikasi dan media massa, secara pribadi sudah sejak lama saya mengidamkan undang-undang telematika, internet, atau apapun namanya, lahir di negara kita. Hal ini mengingat pesatnya perkembangan teknologi yang memungkinkan pertukaran informasi dan transaksi ekonomi terjadi secara elektronik, melampaui batas konvensional di mana para pelibat komunikasi dan pelaku bisnis harus bertemu dan bertatap muka.

Yang perlu dipahami adalah bahwa kehadiran sebuah undang-undang sejatinya untuk mengatur, tak sekadar melarang atau membatasi, bahkan bisa digunakan untuk melindungi. Dalam konteks bahwa Indonesia juga sedang sibuk mempersiapkan diri terlibat dalam ajang perdagangan bebas di era yang kian modern, maka regulasi tentang transaksi bisnis secara elektronik, saya rasa menjadi niscaya. Ketika perputaran uang terjadi secara elektronik, maka seharusnya segala dokumen yang dipertukarkan secara elektronik seperti e-mail, media transaksi online, dan sebagainya, bisa menjadi barang bukti atau sarana pembayaran yang sah. Keberadaaan UU ITE pun diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor asing untuk menanam uang di tanah air.

Kehadiran UU ITE di tengah-tengah dinamika transaksi informasi yang terus berpacu dengan kemajuan teknologi, menurut saya sudah relevan. Tentu saja asalkan berbagai keresahan akan hak cipta di dunia maya, penipuan dalam bisnis online, dan kerabunan akan etiket berinternet bisa terjawab melalui undang-undang ini. Jadi, kurang tepat jika UU ITE harus dicabut atau dihapus. Akan tetapi UU ITE memang perlu direvisi. Berkaitan dengan pasal 27, seharusnya tidak terjadi disparitas antara pasal ini dengan klausul yang sama pada pasal 310-321 KUHP, di mana porsi hukuman dan kriteria perkara antara kedua undang-undang ini tidaklah sama. Pada titik ini pun, menurut saya kasus pencemaran nama baik kurang tepat jika hanya dibahas dalam kitab hukum pidana, tetapi juga mesti diatur secara perdata. Sebab, perkara pencemaran nama baik lebih banyak kandungan privat daripada publiknya.

Dari sisi pengguna internet atau information technology sendiri, harus muncul kesadaran untuk menggunakan fasilitas ini secara bijak. Seiring dengan tumbuhnya citizen journalism di dunia sebagai dampak langsung keberadaan web blog, maka seyogyanya muncul pula kebiasaan untuk mengedepankan asas praduga tak bersalah sebagaimana etika jurnalisme pada umumnya. Dengan demikian, pertumbuhan jurnalisme warga tetap gemah ripah lagi subur menjamur. Yang terpenting, dinamikanya tak perlu terbentur dinding undang-undang yang secara gelap mata digunakan untuk membungkam kebebasan mengeluarkan gagasan.

Tabik.

*dimuat di Harian Banjarmasin Post edisi 16 Juni 2009, dengan beberapa penyuntingan.

Tapi maaf, di harian ini info mengenai identitas saya agak keliru. Tertulis bahwa saya adalah mahasiswa S2 UGM. Itu murni kesalahan dari redaksi BPost, sebab saya sama sekali bukan mahasiswa S2 UGM. Insya Allah akan, tapi sekarang belum… (mudah-mudahan kesampaian, hehe)

Posted by: tiwiebagio | June 15, 2009

Lagi Gila Origami

Figur Princess Buttercup, 1 dari 6 papercraft pertama saya. Saya tambahin tai lalat di atas bibir, biar makin mirip sama saya, hehe..

Figur Princess Buttercup, 1 dari 6 papercraft pertama saya. Saya tambahin tai lalat di atas bibir, biar makin mirip sama saya, hehe..

Awalnya adalah ketertarikan saya pada papercraft, yaitu sebuah kegiatan bikin-bikin prakarya menggunakan kertas. Pada prinsipnya kertas ini hanya menjadi media untuk menyalurkan ide dan kreativitas lewat kegiatan menggunting, melipat, menempel, dan sebagainya. Saya coba-coba bikin papercraft, jadilah enam bentuk figur dari berbagai film dan cerita terkenal. Empat di antaranya saya hadiahkan kepada sahabat baik saya.

Lalu disambung dengan rencana saya dan manager saya untuk menyusun buku tentang origami, sebagai teman mengisi waktu liburan beberapa minggu lagi. Mulailah saya berguru pada Mbah Google soal makhluk yang namanya Origami ini. Saya cari berbagai situs yang mengarsipkan cara-cara membuat berbagai bentuk benda dan figur dengan kertas. Lagi-lagi saya coba-coba bikin beberapa. Tanpa saya duga, saya langsung ketagihan karenanya.

Pertama kali mencoba, saya tak bisa berhenti bikin origami. Dari bentuk-bentuk dasar seperti kapal, pesawat, topi bajak laut, sampai yang agak-agak ribet seperti bunga lily, kepiting, dan kalkun, berserak begitu saja di meja saya. Wow, saya sendiri heran menyaksikannya. Kok bisa ya saya bikin benda begituan?

Pasalnya begini, sejak dulu saya menduga bahwa ‘prakarya’ dan ‘Pratiwi’ tidak diciptakan Allah untuk bisa berjalan bersama. Pekerjaan saya yang berhubungan dengan kerajinan tangan, terutama yang membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian, tak pernah berbuah hasil yang memuaskan. Diperparah lagi oleh saya yang sama sekali tak punya kepekaan untuk memperindah prakarya itu sendiri. Soal cipta rasa dalam seni rupa, bisa dibilang saya ini mengenaskan.

Dulu waktu SD ada tugas bikin keranjang dengan sabun mandi batangan yang ditusuk-tusuk dengan jarum pentul lalu dijalin dengan pita kain. Teman-teman bisa membuatnya dengan cantik, dijalin sana diplintir sini. Sementara, saya hanya membalut batang sabun itu tanpa pola dan orientasi yang jelas sebenarnya mau bikin keranjang model apa.

Tapi, keadaannya beda ketika saya menyentuh origami. Origami bikin saya penasaran. Mendorong saya untuk bisa menaklukkannya. Sampai-sampai saya punya rencana untuk menghias meja dan ruangan saya di kantor dengan rangkaian origami.

Kawanan origami yang kini menghiasi meja kerja saya :)

Kawanan origami yang kini menghiasi meja kerja saya :)

Bagusnya, origami melatih otak saya untuk berpikir secara terstruktur dan kronologis. Waktu melipat kertas warna-warni itu, saya harus bekerja dengan sabar, cermat, dan presisi. Saya tak boleh buru-buru, saya justru harus berhati-hati dan karena sekali tak tepat melipat, efeknya bisa berganda mempengaruhi hasil akhir origaminya. Kalo nggak sabar menekak-nekuk, salah-salah kertasnya bisa rusak. Semangat saya bikin origami kayaknya bisa ngalahin adrenalin prajurit TNI kala menjemput ajal di helikopter yang tengah jatuh alias terjun bebas.

Yang lebih menakjubkan, origami bisa jadi obat depresi yang efektif bagi saya. Minggu ini saya memang sedang stres karena kerjaan kantor nggak beres-beres. Maka ketika saya jenuh menghadapi tumpukan naskah yang harus segera dirampungkan, iseng-iseng saya bikin origami. Dan tiba-tiba saja, saya sudah lupa akan pikiran-pikiran yang tadinya membeban. Konsentrasi saya tercurah penuh untuk menyelesaikan origami, jadi saya tak sempat memikirkan kegundahan hati. Selesai menggarap origami, saya bisa kembali ceria lalu menghadap komputer lagi.

Biasanya acara origami sebagai penghilang stres ini bisa berlangsung sampai satu jam. Dan semangat saya yang terlonjak usai ber-origami ria, sebenarnya tak lain adalah bentuk reaksi; “Waduh, udah jam segini? Gawat, kerjaanku belum selesai!!! Ayo kembali bekerja!”, lalu melonjak-lonjak lah saya karena panik. Lalu stres saya bertambah. Lalu saya bikin origami lagi. Lalu panik lagi waktu sadar kerjaan belum kelar. Lalu stres lagi. Bikin origami lagi. Trus kapan beresnya ya ini, hehe.. ;p

Saya paling suka bikin bentuk angsa terbang dengan sayap mengembang. Tak ada alasan khusus sih, hanya saja kalo memandangi hasil jadinya itu angsa-angsa terbang, rasanya kok romantis ya? Nyambung nggak sih? Ah, entahlah, pokoknya saya suka. Lagian, bentuk angsa itu seperti menggambarkan diri saya. Tengah mengepak sayap, terbang mengambang. Kadang mencari-cari kadang berhenti lalu menanti. Tapi sayap selalu terkembang, siap menjelajah lagi kapan-kapan. Yang jelas, ia berwarna-warni.

Besok-besok saya mau bikin origami angsa terbang yang banyak dengan kertas berbagai warna dan ukuran, lalu memasukkannya ke dalam toples bening hingga penuh, lalu saya pajang di kamar. Atau mungkin akan saya gantung beberapa di jendela, menggantikan tirai asli dengan ‘tirai’ dadakan dari origami burung angsa. Sepertinya romantis, ya kan? Huhu.

Jadi, jika ‘prakarya’ dan ‘Pratiwi’ tak bisa akur, mungkin ‘Utami’ dan ‘Origami’ diciptakan untuk berjodoh, minimal dari rima-nya, hehe…

Kelak kalau saya sudah punya anak, saya akan membesarkan ia dengan buku, mengakrabkan telinganya dengan lagu Balonku atau Lihat Kebunku, dan… hei, mengajarinya origami juga sepertinya bukan ide buruk…

Tabik.

Posted by: tiwiebagio | June 15, 2009

Allah Tak Pernah Ingkar Janji

Atas segala anugerah-Nya, yang membuat saya merasa seperti orang paling berbahagia di dunia, saya hanya ingin bilang bahwa: Allah selalu menepati perkataan-Nya.

Bilanglah tulisan ini tak begitu penting lagi terlalu personal untuk dipahami orang lain di luar diri saya. Sebab memang, ini hanyalah bentuk kesungguhan pribadi untuk mengucap berjuta terimakasih pada-Nya.

Ia belum pernah menyerah pada saya, hamba-Nya.

Tak sekali pun melepas genggaman tangan saya.

Pantang meninggalkan saya sendirian saat saya berjelaga dan berdosa.

Dia justru sabar menanti saya kembali.

Melingkupkan kasih sayang-Nya pada saya yang bebal ini.

Kala saya melata menuju-Nya, Ia hampiri saya dengan berlari.

Waktu saya berpaling, Ia tarik-tarik lengan saya supaya batal pergi.

Ya, katakanlah ini sajak sarat melankoli.

Tapi sungguh, bagi saya, Ia selalu suci dalam janji.

Tabik.

Posted by: tiwiebagio | June 15, 2009

Logika Bahasa Inggris

Baru saja saya membaca blog seorang rekan editor di kantor. Salah satu artikelnya membahas tentang ‘keanehan’ bahasa Indonesia. ‘Aneh’ di sini mengarah pada beberapa kata yang penggunaannya salah kaprah, misalnya ‘rekonstruksi ulang’, ‘secara’ – dalam konteks yang salah (sila simak artikel saya berjudul ‘Kemenangan Bahasa Indonesia’ untuk melihat contoh penggunaan kata ‘secara’ yang salah), ‘mengisi bensin’, dan sebagainya.

Saya tergelitik untuk membahas topik yang sama, namun tentang bahasa yang berbeda.

Kebetulan seorang kawan di sebuah milis memposting artikel menarik tentang keanehan bahasa Inggris dari segi logika. Bukan untuk mengatakan bahwa bahasa Inggris itu aneh, namun lewat artikel ini saya jadi paham mengapa bahasa Inggris rada susah untuk dipahami. Maaf jika saya harus mengopi-tempel tanpa mengubah bahasanya jadi bahasa Indonesia. Soalnya, lebih menggelitik kalo pake bahasa Inggris, hehe. Tapi saya tetep cinta bahasa Indonesia kok, tenan

*Logic and the English language*

Have you ever wondered why foreigners have trouble with the English Language?
Let’s face it English is a stupid language.

- There is no egg in the eggplant
-
No one walking in the walkman
- No ham in the hamburger
- And neither pine nor apple in the pineapple.
- English muffins were not invented in England.
- French fries were not invented in France.

We sometimes take English for granted, but if we examine its paradoxes we find that:

Quicksand takes you down slowly
Boxing rings are square
And a guinea pig is neither from
Guinea nor is it a pig
If writers write, how come fingers don’t fing.
If the plural of tooth is teeth
, shouldn’t the plural of phone booth be phone beeth
If the teacher taught
, why didn’t the preacher praught.

If a vegetarian eats vegetables, what the heck does a humanitarian eat!?
Why do people recite at a play
, yet play at a recital?
Park on driveways and
drive on parkways

You have to marvel at the unique lunacy of a language where a house can burn up as it burns down
And in which you fill in a form
by filling it out
And a bell is only heard once it goes!

English was invented by people, not computers.
And it reflects the creativity of the human race
(Which of course isn’t a race at all)
That is why

When the stars are out they are visible
But when the lights are out they are invisible
And why it is that when I wind up my watch
It starts.

But when I wind up this observation

It ends.

Kadang kita kesulitan memahami bahasa Inggris. Tapi percayalah, bukan kita yang salah atau terlalu lemah untuk menyerap pelajarannya. Ternyata, bahasa Inggris itu sendiri terkadang bermasalah, hehe.

Tabik.

Posted by: tiwiebagio | June 8, 2009

Kemenangan Bahasa Indonesia

Pada sebuah konferensi pers di London dalam perhelatan G20 Submit baru-baru ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan untuk menyampaikan pidatonya dalam Bahasa Indonesia, sama seperti Kepala Negara lainnya yang menggunakan bahasa negara mereka. Meski dalam konferensi itu, mungkin hanya Barrack Obama yang bisa mengerti apa yang disampaikan oleh SBY, paling tidak ide untuk menyampaikan pidato dalam Bahasa Indonesia adalah cara yang baik untuk mempromosikan bahasa kita.

Saya menilai, sejak dunia bersiap memasuki era perdagangan bebas, penguasaan terhadap bahasa asing menjadi niscaya. Dalam konteks bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang juga sibuk-sibuk di ajang perdagangan bebas, maka bagi saya masuk akal adanya jika negara lain pun mulai mempelajari bahasa Indonesia. Kita boleh disebut anggota negara dunia ketiga, tapi kita pun bagian dari lingkaran besar bernama perdagangan bebas itu. Jadi, jika kita sering dituntut untuk menguasai bahasa Inggris, Mandarin, Prancis, atau Jepang dalam rangka persiapan pembukaan gerbang menuju perdagangan bebas lagi global bertaraf internasional, mengapa tuntutan yang sama tak bisa dilakukan di negara lain? Bukankah akan lebih mudah dan efektif ketika kita berbisnis menggunakan bahasa lawan bisnis kita?

Di Australia, bahasa Indonesia mulai diajarkan di setiap sekolah menengah, tingkat pertama maupun atas. Di universitas pun ada studi tentang Indonesia, baik bahasa maupun budaya dan politiknya. Di sekolah menengah, status pelajaran bahasa Indonesia tak jauh berbeda dengan pelajaran bahasa Inggris di negara kita. Termasuk dalam kurikulum dan bukan muatan lokal (ya gimana bisa lokal? Lha wong bosone impor je, hehe). Metode pengajarannya mengandalkan keaktifan praktik berbahasa, misalnya selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia jika bertemu guru yang mengajarkannya. Bedanya, ada kesempatan bagi siswa kelas tertentu untuk studi ekskursi atau kunjungan studi ke Indonesia, untuk memperlancar apa yang sudah dipelajarinya di kelas. Seperti siswa kelas XI di Macksville High School, sebuah sekolah di bagian utara New South Wales, yang rutin mengadakan kunjungan ke Jawa-Bali setiap tahun bersama gurunya. Ah, coba aja di SMA saya dulu juga ada program kunjungan ke Inggris, pasti lah saya jadi orang pertama yang memperjuangkan program Everyday is English Day di sekolah, hehe.

Saya sendiri, adalah penggemar bahasa Indonesia. Saya lupa kapan saya mulai menyukai pelajaran bahasa Indonesia, yang jelas saya suka. Saya bisa jadi sangat bersemangat ketika tiba pelajaran menulis, entah cerpen, pengalaman, kajian puisi atau wacana. Bagi saya itu sarana penyegaran setelah otak saya kaku menguraikan persamaan matematika, atau setelah berusaha memahami dikotomi perbuatan terpuji-tercela dari guru PMP. Lalu saya, dengan penuh percaya diri bahwa tulisan saya adalah yang terbaik sedunia, akan mengacungkan tangan paling tinggi jika ditantang guru untuk membacakan hasil karyanya di depan siswa lain.

Pokoknya saya suka bahasa Indonesia. Mungkin karena hanya itu saja yang saya bisa. Saya buntung dalam menghitung, pula buntu dalam permainan logika. Oke, saya senang menghapal, tapi saya punya masalah dalam sistem penyimpanan memori jangka pendek, makanya hapalan itu cepat pula hilang dari simpul syaraf otak saya. Tapi saya suka mengarang dan membaca. Ketika menulis, rasanya saya memiliki dunia. Saya bebas menciptakan situasi seperti apapun yang saya inginkan, terserah mau masuk akal atau tidak, bisa diterima logika atau ternyata tak realistis, saya tak peduli. Yang penting, ketika menulis saya tak perlu menghitung. Titik.

Itulah alasan kenapa saya begitu sensitif terhadap penggunaan bahasa. Seringkali saya mengoreksi tuturan saya sendiri ketika berbicara, karena saya menganggapnya tak sesuai kaidah bahasa atau ternyata mengandung ambiguitas. Pun, tak jarang saya keceplosan mengedit omongan orang lain hanya karena mereka mengucapkan ‘merubah’ dan bukan ‘mengubah’. Mata saya suka sepet sendiri kalau menemukan kata ‘disana’ yang seharusnya ditulis ‘di sana’, apalagi jika kesalahan ini saya temukan di media massa.

Saya juga suka resah dengan para pembesar yang suka mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam pembicaraan mereka di media. Rasanya kok mereka terlihat malas untuk mencari padanan kata dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sungguh, saya akan angkat topi jika ada pejabat yang kekeuh mareukeuh, sangkil lagi mangkus untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia. Mari berjabat tangan pak, bu.

Bagi saya, tatanan bahasa yang saya gunakan menunjukkan siapa, apa, dan bagaimana saya. Maka, ketika saya bisa berbicara dengan menggunakan bahasa yang baik, tak perlu terlalu formal pakai ‘saya-Anda’ yang penting diksinya benar, dan tidak ambigu, saya merasa lega. Bila saya memilih ‘diubah’ ketimbang ‘dirubah’, menggunakan ‘karena’ daripada ‘secara’ untuk mengungkapkan (misalnya) ‘secara karena itu kerjaan elu, ya elu dong yang kudu tanggungjawab’, atau jika dengan cermat lagi tepat menggunakan setiap diksi pada setiap konteks, saya merasa puas.

Dan akhirnya, saya ingin berterimakasih pada SBY yang sudah menggunakan bahasa Indonesia pada pidato internasionalnya. Bukan, bukan karena dia membantu mempromosikan bahasa yang saya cinta. Tapi karena pada titik ini, saya merasa menang. Itu saja.

Tabik.

NB: Tapi maaf, pak SBY. Kayaknya saya bakal golput beneran nih. Setelah mempertimbangkan banyak hal dan akhirnya insyaf lalu memutuskan untuk ikut memilih, saya baru sadar kalau waktu mengurus daftar pemilih, ternyata sudah lewat. Ya sudah. Mudah-mudahan golput tak bernilai haram di mata Allah Swt. Saya milih pake doa aja deh…

Posted by: tiwiebagio | June 4, 2009

Coretan Jalanan dan Moral yang Berceceran

kalau melihat pesannya, masihkah coretan jalanan dianggap tak bermoral?

kalau melihat pesannya, masihkah coretan jalanan dianggap tak bermoral?

Foto ini saya ambil dalam perjalanan pulang kerja kemarin senja. Saya melewati sebuah kawasan pemukiman yang warganya bertetangga dengan rel kereta api yang bermuara di Stasiun Kereta Api Lempuyangan Yogyakarta. Jangan tanya ini di sebelah mananya stasiun Lempuyangan. Saya buta arah, saya tak paham Timur, Tenggara, Selatan, atau Barat Daya kalau ditembak jarum kompas dari posisi saya ketika itu dengan stasiun. Pokoknya di situ deh. Deket sama tempat pembuangan sampah, pos ojek, dan rel kereta api yang tanpa palang pengaman.

Oke.

Mata saya berhenti pada rambu STOP itu ketika melihat kata ‘violence’ di bawahnya, lalu secara refleks tangan saya mengambil telepon seluler untuk kemudian membidik objek dengan kamera ponsel. Saya pikir, betapa besarnya kepedulian sang penulis kata “violence’ pada kekerasan, hingga ia menyuarakannya lewat coretan jalanan.

Selama ini, dengan menggunakan selera pada umumnya (common sense), kita bilang bahwa coretan jalanan adalah bentuk vandalisme, wujud naluri suka merusak. Karenanya, pencoret jalanan jadi musuh bersama. Mending dibikin mural sekalian daripada corat-coret nggak jelas di tembok, tiang listrik, bahkan jalan raya.

Ditinjau dari segi visual, mural memang lebih ramah mata. Dengan gambar, kartun, karikatur, atau ilustrasi warna-warni, mural menjadi bisa diterima oleh orang pada umumnya. Tapi coretan jalanan? Siapa yang tak gemas melihatnya? Apalagi, para pencoret sepertinya alergi membiarkan tembok atau fasilitas publik terlihat bersih, karena mungkin terlihat membosankan. Sudah bagus dinding dicat putih bersih, tak sampai 24 jam sudah belepotan lagi dengan grafis-grafis sederhana penanda nama gank yang sebenarnya agak susah dibaca. Kalo dinding mah mungkin masih lumayan, tinggal dicat ulang. Lain hal kalo yang jadi korban adalah jalan raya. Baru saja rampung pengaspalan, besoknya tulisan “SINTA I LOVE YOU”, misalnya, sudah bersaing dengan garis marka di tengah jalan. Lha kalo begini, apa iya harus diaspal lagi?

Sepertinya tangan kita kadang terlalu kreatif sehingga selalu gatal untuk meninggalkan jejak. Saya masih ingat jaman sekolah dulu, tempat duduk saya tak pernah lepas dari coretan pulpen, spidol, atau tipe-x. Dan ups, saya juga dulu berkontribusi untuk menuliskan “Tiwi III-E”, hehe..

Tapi, mentang-mentang bersifat merusak dan mengganggu, jangan lantas menarik garis lurus antara coretan jalanan dengan moral. Sebab, ada satu hal yang saya tandai dari segala bentuk coretan di tempat publik, entah mural, graffiti, atau sekadar coretan ngasal saja. Hal itu adalah pesan. Siapapun dia, lewat jalanan ia menyampaikan pesannya, protesnya, idenya, gagasannya, atau kritiknya. Ya, baik. Caranya tak tepat, dan teteup… tak bermoral karena merusak ruang publik. Tapi ruang publik itu sebenarnya punya siapa? Apa para pencoret sudah memiliki keterwakilannya di ruang itu?

Baik. Kalau lalu Anda masih menggugat soal moral, saya sodorkan foto ini. Lebih bermoral mana, dia yang mungkin tinggal di pemukiman dekat rel kereta api, daerah yang identik dengan kekumuhan dan pengangguran, ketika moral sudah dianggap tercecer tak beraturan, namun telah menambahkan kata “violence” itu pada rambu STOP, atau mereka yang hidup nyaman tanpa kepikiran beban dapur bulanan, namun menyiksa pembantunya hanya karena lauk makan siang dimasak keasinan, memukul anaknya hanya karena hasil ujian tak memuaskan, atau bahkan diam saja membiarkan kekerasan tumbuh subur di halaman belakang rumahnya yang rimbun teduh oleh pepohonan?

Tabik.

Older Posts »

Categories