Filter Bubble, Facebook, dan Kita yang Pergi Mengasingkan Diri

Beberapa saat setelah kelahirannya, media sosial daring digadang-gadang sebagai alat pemantik demokrasi yang ampuh. Iklim alamiah Web 2.0 memungkinkan setiap pengguna internet mengunggah tulisan, foto, dan video (user-generated content) dalam sekali sentuh, menggunakan berbagai macam gawai yang ia punya. Publikasi gagasan kini tidak lagi dikuasai oleh media massa tradisional (cetak maupun elektronik) atau mereka yang punya modal. Siapapun bisa menjadi produsen dan distributor informasi di jagad internet. Gelombang euforia pun melanda: media sosial menyediakan ruang publik dan menjadi pengejawantahan demokrasi era baru. Setiap individu memiliki kesempatan dan sarana untuk memproduksi, mendiseminasi, serta mengonsumsi informasi apapun.

Continue reading “Filter Bubble, Facebook, dan Kita yang Pergi Mengasingkan Diri”

Advertisement

Malaikat Tanpa Sayap

Sebentar lagi saya dan suami mengkhidmati setahun pernikahan kami. Mau tak mau, saya merenung. Apa saja yang sudah kami lalui? Apa saja yang sudah kami dapat? Sampai mana pencapaian kami? Adakah kualitas kami sebagai manusia maupun sebagai suami dan istri sudah meningkat?

Sebagai istri, ada banyak hal yang belum bisa saya penuhi untuk suami. Selalu ada saja yang saya rasa kurang di setiap hari. Saya kerap merasa bersalah karena bakti saya untuk beliau tak kunjung menuju sempurna. Standar “istri yang baik” -yang saya tetapkan sendiri- belum pernah pula saya capai.

Continue reading “Malaikat Tanpa Sayap”

Cinta yang Tak Pernah Bertemu Malam

Untukmu mentariku selalu menyala

merawat bara-bara rasa

dari dua beda yang sudah terbiasa

Untukmu, bulan tak kunjung menyelinap

karena di sini tak kenal gelap

meski mataku terpejam lelap

Untukmu, cintaku tak pernah bertemu malam

karena mentari terlambat terbenam

setia meninggalkan terang

pada hatiku yang tenggelam dalam sayang

mentariku ada untukmu...

Plosokuning, 180710 15.40 WIB

Jangan Berhenti di Sosok Kartini*

Perempuan. Hiduplah bebas, percaya diri, dan mandiri. Sumber foto: http://www.gettyimages.com

Sejak berhasil meletakkan dasar pemikiran tentang anti-diskriminasi terhadap perempuan, Raden Ajeng Kartini ramai dibunyikan sebagai feminis sekaligus pahlawan emansipasi perempuan Indonesia.

Selama hidupnya, Kartini memang banyak melontarkan kritik pedas pada orang-orang kolonial. Lewat surat-suratnya yang tanpa henti pada teman Belandanya, Stella Zeehandelaar, Kartini mengecam praktik pingit pada gadis-gadis Pribumi.

Continue reading “Jangan Berhenti di Sosok Kartini*”

Tak Setara Gender Sejak Kecil

Sebelum berangkat ke kantor pagi ini, saya singgah sebentar di sebuah lapak permak tas dan sepatu. Niatnya ingin mereparasi tas kesayangan yang ritsletingnya sudah simelekete. Baru saja turun dari motor, saya melihat adegan menarik.

Dua anak kecil usia 3-4 tahun – satu laki-laki satu perempuan – sedang menangis. Asumsi saya, mereka habis bertengkar. Sang ibu, yang satu tangannya sibuk membawa plastik belanjaan, berusaha melerai. Ia berkata sambil menowel pipi anak laki-lakinya:

Ra sah nangis! Tukaran wae, marai mumet…” (Kalau nggak salah sih begitu, I’m vaguely remember, hehe)

Continue reading “Tak Setara Gender Sejak Kecil”

Way to the second month

I wish I had a mango tree in my backyard

With him standing next to me take the picture

Or another tree is okay as long as he’s with me

From his lips I heard him say “Can I have you?”

Silent for seconds… well, what to say?

I said you do.

Down the street to the mango tree

To scratch our names on its trunk

Or another tree is okay

As long as we stay young and free in the sun

I said you do.

Baciro, February 4, 2010 – 4:37 PM

Malam itu Malamku

Malam itu adalah malamku

Ketika aku bertemu lagi denganmu

Sejak itu kamu seperti jadi hantu

Bagi hatiku yang kian tak menentu

Hingga aku tak punya alasan

Untuk tak menerima

Isyarat cinta yang kau kirimkan berkala

Sekarang aku cuma mau bilang

Aku sedang dibekap rindu,

Jadi tolong, jangan berhenti menghantuiku.

 

Baciro, 301009 16.45

Rumah Remang-Remang

Hampir di setiap daerah perbatasan di Indonesia, terutama di jalan lintas propinsi, sering ditemukan fenomena “Warung Remang-Remang”. Disebut remang-remang, karena warung ini memang hanya difasilitasi listrik seadanya. Para pengguna jalan kerap memanfaatkan warung ini untuk melepas lelah, minum kopi sejenak agar mata tetap cerah selama bepergian jauh. Tapi belakangan warung ini diimbuhi konotasi negatif. Pasalnya, selain karena penerangannya kurang, letak tempat ini lumayan terpencil, terlindung belukar bertungkai tinggi atau bahkan di area hutan. Tak jarang, warung “remang-remang” dijadikan lokasi praktik prostitusi ilegal.

Di Kalimantan Selatan (Kalsel), tempat yang “remang-remang” bisa Anda temukan di hampir seluruh wilayah propinsi ini. Di desa maupun kota, di waktu-waktu tertentu rumah remang-remang pasti ada. Bukan karena praktik prostitusi sudah sedemikian merajalela. Tidak pula karena Kalsel masih banyak hutannya. Tapi, rumah ini benar-benar remang-remang. Harfiah tanpa listrik, denotatif cuma diterangi cahaya lilin.

Continue reading “Rumah Remang-Remang”

Tiga Lagu Saja Cukup

Tiba-tiba sudah akhir bulan Juli. Saya jadi merasa berutang. Dulu sekali ketika saya mengaktifkan kembali blog ini, saya berjanji pada diri sendiri untuk secara rutin memposting tulisan. Minimal ada 2 tulisan selama satu bulan.

Dan sekarang Juli sudah benar-benar sampai di penghujung. Dan posting bulan ini baru ada 1, itu pun sebuah obituari untuk almarhumah nenek saya tercinta.

Baiklah, sekarang akan saya bayar utangnya. Saya ingin bercerita.

Pertengahan bulan Juni lalu (gila, ini pula seharusnya jadi konsumsi publik bulan lalu, aih!), saya berkesempatan menginjak kota Jakarta. Keperluan saya di kota bising ini adalah untuk menghadiri pernikahan salah seorang abang sepupu. Ia tinggal di Bekasi. Saya berangkat ke Jakarta menggunakan jasa penerbangan kelas ekonomi. Sampai di bandara, saya harus menunggu ayah saya yang datang dari Pekanbaru. Sejam menunggu, saya dan ayah akhirnya bertemu.

Continue reading “Tiga Lagu Saja Cukup”

Cucu Yatim Piatu

 

Dalam memori masa kecil saya terekam,

Ia pernah menjadi sosok yang menyenangkan.

Saya diajaknya jalan-jalan,

Dibelikan baju dan mainan.

Dia membuat tugas mengarang dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan topik “Berlibur di Rumah Nenek” menjadi mudah dikerjakan. Keberadaannya membuat dongeng-dongeng mengenai kedekatan cucu dan neneknya bagi saya menjadi relevan.

Setiap saya berlibur di rumah nenek, beliau memfasilitasi saya dengan pengalaman mengaji Al-Quran, ikut ke pasar membeli bahan makanan, sampai dibelikan mainan untuk bermain masak-masakan.

Continue reading “Cucu Yatim Piatu”