Tiga Lagu Saja Cukup

Tiba-tiba sudah akhir bulan Juli. Saya jadi merasa berutang. Dulu sekali ketika saya mengaktifkan kembali blog ini, saya berjanji pada diri sendiri untuk secara rutin memposting tulisan. Minimal ada 2 tulisan selama satu bulan.

Dan sekarang Juli sudah benar-benar sampai di penghujung. Dan posting bulan ini baru ada 1, itu pun sebuah obituari untuk almarhumah nenek saya tercinta.

Baiklah, sekarang akan saya bayar utangnya. Saya ingin bercerita.

Pertengahan bulan Juni lalu (gila, ini pula seharusnya jadi konsumsi publik bulan lalu, aih!), saya berkesempatan menginjak kota Jakarta. Keperluan saya di kota bising ini adalah untuk menghadiri pernikahan salah seorang abang sepupu. Ia tinggal di Bekasi. Saya berangkat ke Jakarta menggunakan jasa penerbangan kelas ekonomi. Sampai di bandara, saya harus menunggu ayah saya yang datang dari Pekanbaru. Sejam menunggu, saya dan ayah akhirnya bertemu.

Sudah cukup malam kala itu, sekitar jam sembilan. Dari Cengkareng, saya dan ayah menumpang shuttle bus bandara merek DAMRI yang akan berhenti di Terminal Bekasi Timur. Di sanalah ibu saya menunggu bersama supirnya sepupu saya. Maka malam itu saya dan ayah menghabiskan malam di atas bus. Saya, tentu saja, tertidur dengan pulasnya.

Tiba-tiba,

Gonjreeeeng….

Saya langsung melek. Beberapa meter sebelum masuk pintu tol Bekasi Timur, seorang pengamen meloncat ke dalam bus. Saya langsung ilfil. Heran, masa pengamen boleh masuk ke shuttle bus bandara sih?Aduh, mana dia berdiri tepat di deretan kursi saya dan ayah, lagi. Tepatnya, ia bersandar membelakangi kami.

Maka, sementara abang pengamen itu menyampaikan salam pembuka, saya dan ayah mulai manyun bersungut-sungut, merasa terganggu oleh musisi jalan raya itu. Pada detik berikutnya, di gonjrengan yang kedua dari gitar si Abang, sesungut kami hilang seketika. Pasalnya, si Abang menyanyi dengan sangat baik. Suaranya enak disimak, perpaduan antara Iwan Fals dan Ipank BIP. Ditingkahi oleh permainan gitar yang nyaman didengar dan penghayatan yang menghanyutkan.

Selama si Abang menyanyi, seluruh bus hening menyimak. Kami, seluruh penumpang itu, bisa dibilang sangat menikmati suguhannya. Dia sopan, artikulasinya jelas, minim aksen sengau artifisial yang biasanya dilakukan pengamen lain yang saya tahu. Pilihan lagunya pun sangat pas. Malam-malam jam 11, letih setelah mengarungi angkasa luas lalu mengantri bus, pasti yang Anda ingin dengar adalah lagu dengan beat rendah yang mengalun tenang. Supaya bisa rileks.

Lagu pertamanya, saya lupa judulnya. Pokoknya liriknya begini:

Kau ada yang memiliki

Ku ada yang memiliki

Walau kita masih saling menyayangi…

Itu lagu yang dinyanyikan oleh Trie Utami dan Utha Likumahua. Lagunya enak kan ya?

Lagu kedua, “Kaulah Segalanya” milik Ruth Sahanaya. Lalu pertunjukan malam itu ditutup oleh “Here in Heaven”-nya Eric Clapton.

Mau tak mau saya harus mengakui. Abang ini tulen musisi. Ia menyanyi dengan hati. Ia memahami audiens.

Selagi menikmati suguhan musik si Abang, dari balik punggungnya, dari balik leher gitarnya, saya melihat jari telunjuk dan jari tengah yang ujungnya menebal dan menghitam.

bisakah Anda lihat dua ujung jari yang mengapal itu?
Bisakah Anda lihat dua ujung jari yang kapalan itu?

Saya tertegun. Sudah berapa ratus lagu yang ia nyanyikan sepanjang profesinya sebagai pengamen ya? Sudah berapa dalam senar-senar gitar itu menekan jemarinya hingga ujung-ujungnya jadi bebal dan mengapal begitu?

Saya tahu mungkin ini rada lebay. Ribuan pengamen di Indonesia juga mungkin memiliki ujung jari yang sama. Tapi entahlah, saya benar-benar respek sama Abang yang satu ini. Biasanya saya mau mendengarkan secara sukarela hanya jika ada pengamen yang menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals dengan benar. Namun yang ini kasus khusus.

Selesai menyanyikan lagu ketiga, tepat ketika terminal bus Bekasi Timur tinggal beberapa ratus meter lagi, si Abang menyudahi konser tunggalnya. Tanpa banyak basa-basi ia memberikan sambutan penutup lalu mulai beredar dari kursi terdepan.

Saya dan ayah sudah menyiapkan sejumlah uang sepantasnya sebagai penghargaan atas usahanya malam ini. Ketika ia sampai di deretan kursi di depan saya dan ayah, seorang bapak berkata: “Satu lagu lagi dong, kan masih sempat. Itu terminalnya masih jauh,” pinta sang bapak. Sambil tersenyum sopan ia bilang, “Terimakasih, tiga lagu saja cukup, pak…” lalu berjalan ke arah deretan kursi saya dan ayah.

Sembari juga tersenyum kami memasukkan sejumlah uang ke dalam kantong permen. Setelah sejumput terimakasih ia berlalu.

Saya yakin, semua orang di atas bus malam itu benar-benar menyukai permainannya. Ia benar-benar menyanyi, bukan menggumam. Tak banyak basa-basi, pun tak berbau alkohol. Beberapa komentar positif lain dilayangkan pada sang pengamen, dan ia menerimanya dengan senyum. Ah, andaikan saja ada seorang produser musik yang ikut dalam bus malam itu, mungkin ia sudah diajak rekaman.

Eh tapi jangan ding. Kalau musisi macam dia diajak rekaman, kemungkinan besar dia hanya akan dijadikan alat penyedot uang dengan menyanyikan lagu-lagu mendayu-dayu dan menye-menye seperti yang menjamur belakangan ini. Jika dia masuk dapur major label, mungkin dia akan kehilangan pesonanya. Menyanyi tanpa jiwa. Jangan ah, nanti tak ada lagi yang bisa menyuguhkan pertunjukan musik yang datangnya benar-benar dari hati…

Tabik.

Advertisements

7 thoughts on “Tiga Lagu Saja Cukup

  1. tiwuuuuuullll……
    Assalamualaikuuuummm… 😀

    Bok, daripada lu bingung2 nyari tema buat cerita di blog, mending lu crita ttg gw aja hekhekhekhek… (najis dah gw :P)

  2. Aihhh… alinea pertama ngebulatin tekad buat ngidupin blog, hmmm… postingan terakhir koq agustus.

    Keep writing, jeng, katanya FB baru semangat baru?! qe3 postingan jg baru dong, regards 😀

    1. hehehe… iya nih mas, makasih udah ngingetin. pengen banget ngidupin blog lagi, dari dulu punya blog ga pernah bisa reguler nulisinnya. udah banyak ide, tapi pas mo dieksekusi, kebalap sama kerjaan (jiah, cara lama, nyalahin kerjaan, hehe)
      anyway, ayo ayo semangati aku untuk menulis!!

      ^__^

  3. Jika semua pekerjaan dilakukan dengan hati, maka ia akan mendapat respon dari hati pula…

    Mungkin maksud sampeyan “ditutup oleh ‘Tears in Heaven’ – Eric Clapton” ??

    -keep writing-

  4. Terimakasih sudah berkunjung Mas. Blog Anda menarik. Produktif sekali, I wish bisa seproduktif itu menulisi blog, hehe… Lay outnya juga unik. Sip sip!
    Iya ding, lagunya judulnya “Tears in Heaven”, hehe… keliru cuma ingat liriknya. Makasih atas koreksinya ya!

    -semangat menulis juga!-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s