Tak Setara Gender Sejak Kecil

Sebelum berangkat ke kantor pagi ini, saya singgah sebentar di sebuah lapak permak tas dan sepatu. Niatnya ingin mereparasi tas kesayangan yang ritsletingnya sudah simelekete. Baru saja turun dari motor, saya melihat adegan menarik.

Dua anak kecil usia 3-4 tahun – satu laki-laki satu perempuan – sedang menangis. Asumsi saya, mereka habis bertengkar. Sang ibu, yang satu tangannya sibuk membawa plastik belanjaan, berusaha melerai. Ia berkata sambil menowel pipi anak laki-lakinya:

Ra sah nangis! Tukaran wae, marai mumet…” (Kalau nggak salah sih begitu, I’m vaguely remember, hehe)

Si anak laki-laki membalas, “De’e yo nangis ko bu…” air mukanya bernada protes seraya menunjuk anak perempuan di depannya.

Kowe ki lanang, ra ono cah lanang nangis! Wis, meneng to!”

Si anak memang terdiam, tapi masih terisak.

Saya juga jadi ikut terdiam dan hanya menggumam, “Inilah jawaban mengapa pola pikir yang sensitif gender susah diwujudkan di negara ini.”

Kalau ketimpangan gender sudah ditanamkan sejak kecil, sejak lama, wajar jika pada akhirnya konstruksi tentang peran laki-laki dan perempuan jadi tidak setara. Dengan kata-kata: “Laki-laki tak boleh menangis”, atau “Perempuan harus duduk yang manis”, wajar jika muncul doktrin tentang bagaimana seharusnya menjadi perempuan maupun laki-laki. Wajar jika berbagai stereotip sepihak itu muncul. Ya, wajar…

Maka, penting bagi kita untuk mengajarkan kepada anak bahwa airmata milik siapa saja. Bertingkahlaku sopan juga harus dipegang oleh setiap orang tak peduli apapun jenis kelaminnya. Bahwa laki-laki tak lebih tinggi derajatnya dari perempuan maupun sebaliknya.

Jika pada akhirnya ada perbedaan fisikal dan hormonal mengenai menstruasi-khitan-hamil-mimpi basah-melahirkan, itu tak ada hubungannya dengan siapa yang lebih baik dari siapa. Jika ada laki-laki membanggakan dirinya karena mereka lebih kuat dan mampu melindungi perempuan, itu karena perempuanlah yang menjadi penyambung nyawa anak-anak mereka lewat proses kehamilan sampai melahirkan. Makanya laki-laki perlu melindungi perempuan. Sementara, ketika menjadi jembatan penting antar generasi, kaum Hawa mestinya bangga, dan makhluk Adam menghormati fakta ini. Jika ada laki-laki terjatuh, tak haram baginya kalau ingin menangis sebab lututnya memang terasa sakit.

Hmm… saya jadi kepikiran lagi tentang nasib anak laki-laki tadi. Mungkin saja konsep “anak-lelaki-tak-boleh-menangis” itu terus terpatri dalam dirinya. Kemudian ia hubungkan dengan konteks yang lebih luas mengenai posisi perempuan dan laki-laki sejalan ia menuju dewasa. Kalau ini yang terjadi, saya khawatir kalau-kalau satu lagi kasus ketidakpekaan akan gender muncul ke permukaan.

Baciro, 30 Maret 2010, 16.55 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s