Jangan Berhenti di Sosok Kartini*

Perempuan. Hiduplah bebas, percaya diri, dan mandiri. Sumber foto: http://www.gettyimages.com

Sejak berhasil meletakkan dasar pemikiran tentang anti-diskriminasi terhadap perempuan, Raden Ajeng Kartini ramai dibunyikan sebagai feminis sekaligus pahlawan emansipasi perempuan Indonesia.

Selama hidupnya, Kartini memang banyak melontarkan kritik pedas pada orang-orang kolonial. Lewat surat-suratnya yang tanpa henti pada teman Belandanya, Stella Zeehandelaar, Kartini mengecam praktik pingit pada gadis-gadis Pribumi.

Kartini, Feminis atau Bukan?

Ada lima pemikiran utama Kartini tentang feminisme dan emansipasi. Pertama, Kartini mendambakan sosok perempuan yang independen, mandiri, dan mampu bekerja untuk kebaikan sesamanya. Kedua, Kartini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Liberal tentang hak-hak individu dan hak pendidikan yang setara. Ketiga, Kartini sangat menentang diskriminasi terhadap perempuan. Keempat, Kartini menyikapi perkawinan dengan sinis. Ia memandang perkawinan sebagai langkah untuk merendahkan martabat perempuan dan menganiaya perempuan sedemikian mengerikan. Terakhir, Kartini menyatakan “perang” terhadap poligami (Arivia, 2006: 43-45).

Pemikiran feminis Kartini sebenarnya datang dari pencerahan pendidikan Barat yang ia dapatkan. Kartini adalah seorang putri bangsawan, ayahnya seorang bupati Jepara. Karena itulah, Kartini bisa mendapatkan pendidikan modern semasa kecil. Fakta ini ditambah dengan keterlibatannya yang cukup intens pada wacana-wacana feminisme Belanda (Yulianto, 2004: xiii).

Tapi, sebelum memuja-muja Kartini sebagai pelopor feminisme di Indonesia, muncul pertanyaan di benak saya. Sebenarnya siapa yang dibela Kartini? Apa yang sesungguhnya ingin ia lawan?

Permasalahan perempuan yang diungkap Kartini sebenarnya adalah sebuah cita-cita besar yang diformulasikan oleh pemikiran Barat. Sosok Kartini menjadi kendaraan untuk sebuah impian besar, general, dan universal. Maka saya jadi curiga. Yang ia suarakan sebenarnya bukanlah soal feminisme, tapi pertentangan umum pada kolonialisme.

Pada faktanya, sebagian besar pemikiran Kartini gagal terwujud. Justru terlihat seperti sebuah ironi. Kesetaraan pendidikan yang ia impikan berhenti pada cita-cita pencerahan yang ia cuplik dari pemikiran Barat. Ia sendiri, dilarang melanjutkan sekolah usai merampungkan pendidikan dasar. Ia dipingit dan menunggu waktu untuk dinikahi oleh bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Kartini memang sempat mengajak teman-teman perempuannya berkumpul lalu mengajari mereka menulis dan membaca, bahkan mengirim permohonan beasiswa untuk belajar ke Belanda kepada JH Abendanon. Namun sayang, beasiswa itu tak pula sempat ia nikmati karena ia keburu menikah dengan Adipati Rembang. Pernikahan ini sekaligus mementahkan kritiknya atas poligami. Sebab, sang Adipati sudah punya tiga istri.

Bukan Cuma Kartini

Penyebutan Kartini sebagai pahlawan oleh pemerintah Orde Baru sebenarnya memiliki muatan kepentingan, yaitu untuk mengunggulkan rezim ke-Jawa-an (Arivia, op.cit., hal.48). Representasi Jawa memang sangat kental kala Soeharto menjadi Presiden. Lagipula, untuk mengontrol kiprah perempuan, rezim Orde Baru perlu sosok buat jadi panutan. Dan Kartini dianggap mewakili kriteria “perempuan baik-baik” masa itu: cukup berpendidikan tapi tetap taat adat dan aturan.

Di titik ini, penyebutan pahlawan bagi Kartini tanpa sengaja seolah membisukan perjuangan seorang Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, atau Christina Martha Tiahahu. Berbeda dengan Kartini yang menghabiskan waktu berkorespondensi dan memprotes karena ia dipingit dan tak bisa merdeka, Cut Nyak Dhien dan Tiahahu maju ke garis depan peperangan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dewi Sartika berhasil mendirikan sekolah resmi untuk perempuan (Sakola Istri) di tahun 1904, pertama di Hindia-Belanda. Apakah perjuangan mereka ini kalah pengaruh dengan surat-surat Kartini?

Lalu datanglah tanggal 21 April setiap tahun. Anak-anak perempuan mengenakan baju kebaya pada pawai sekolah. Sebagai perayaan atas emansipasi dan kesetaraan. Semoga saja para ibu yang mengenakan baju daerah pada anaknya mengerti, bahwa bukan itu esensi emansipasi. Jika pun bicara emansipasi, semoga kita tak lupa pada wanita-wanita pejuang lain yang juga tak kalah besar perannya dalam memerdekakan bangsa ini.

Meski tulisan ini sudah agak sinis pada Kartini, saya pribadi tetap merasa wajib menghargai dan menjiplak keberanian-nya untuk bersuara. Pada masa itu, perempuan Jawa yang berani berpikir dan berbicara langka adanya. Kartini memang tak bisa mewujudkan impiannya tentang perempuan ideal yang pernah ia tuliskan sendiri pada Stella Zeehandelaar. Tapi paling tidak, mimpinya berikut ini harus bisa diwujudkan seluruh perempuan Indonesia, dengan cara masing-masing:

“Aku sungguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria, kuat, antusias, dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya.” (RA Kartini, Jepara 25 Mei 1899)

Tabik.

* Seperti dimuat di Harian Banjarmasin Post edisi 21 April 2010 hal. 26, dengan beberapa penyuntingan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s