Malaikat Tanpa Sayap

Sebentar lagi saya dan suami mengkhidmati setahun pernikahan kami. Mau tak mau, saya merenung. Apa saja yang sudah kami lalui? Apa saja yang sudah kami dapat? Sampai mana pencapaian kami? Adakah kualitas kami sebagai manusia maupun sebagai suami dan istri sudah meningkat?

Sebagai istri, ada banyak hal yang belum bisa saya penuhi untuk suami. Selalu ada saja yang saya rasa kurang di setiap hari. Saya kerap merasa bersalah karena bakti saya untuk beliau tak kunjung menuju sempurna. Standar “istri yang baik” -yang saya tetapkan sendiri- belum pernah pula saya capai.

Saya sering lupa menyediakan minuman kesukaannya. Menu masakan saya kadang seadanya dan itu-itu saja. Seharian saya bekerja, seringnya pulang lebih telat daripada suami saya karena jam ngantor kami berbeda. Yah, saya adalah istri yang ditunggu suami pulang ke rumah, bukan sebaliknya. Beliaulah yang membuka pintu untuk saya sepulang bekerja, bukan sebaliknya. Jika saya pulang kehujanan, beliau yang tergopoh membawakan handuk untuk saya, bukan sebaliknya.

Beruntung, saya punya suami dengan level kesabaran tingkat tinggi. Senantiasa mampu memahami. Sebagai manusia, ia mengeluh, tapi ia bisa mengerti bahwa situasinya masih harus begini. Ia mengulurkan tangan saat saya mulai putus asa dengan segala ketidaksempurnaan diri saya. Menyediakan ruang diskusi demi mengisi waktu komunikasi berkualitas yang tak selalu banyak karena kesibukan kami berdua.

Ah, tadinya, sebagai perempuan masa kini (eh?), saya berpikir bahwa hidup adalah melulu soal prestasi, aktualisasi, dan posisi di ruang publik. Sebelum menikah, saya merefleksikan diri di masa depan terlibat dalam jenis pekerjaan yang mampu mengatrol gengsi, lalu memimpin rapat/diskusi sebagai figur yang mapan dan penuh kendali. Sebagai perempuan modern (oh?), hidup adalah soalaccomplishment dan citra diri.

Tapi kini seteleh  menikah, sebagai perempuan (nah!), mimpi saya lebih tinggi dari itu. Saya ingin menjadi istri yang bisa membuat hati suami tenang hanya dengan memandang. Bisa sepenuhnya mencintai di kala ia dekat, menjaga harta dan kehormatannya di kala jauh. Menjadi penawar dukanya, membantu navigasi kapal di mana ia menjadi nakhodanya.

Karena saya ingin menjadi tempat kembali bagi hatinya. Sarang bagi makhluk istimewa yang telah dengan murah hati Dia kirimkan untuk bergabung dalam kehidupan saya. Makhluk yang menjelma malaikat dalam ketidaksempurnaannya. Malaikat tanpa sayap yang setiap fajar mendekap saya, mengalirkan kasih sayang yang terasa sampai ke ujung bulu mata.

Plosokuning, H-30

 

Advertisements

2 thoughts on “Malaikat Tanpa Sayap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s