Filter Bubble, Facebook, dan Kita yang Pergi Mengasingkan Diri

Beberapa saat setelah kelahirannya, media sosial daring digadang-gadang sebagai alat pemantik demokrasi yang ampuh. Iklim alamiah Web 2.0 memungkinkan setiap pengguna internet mengunggah tulisan, foto, dan video (user-generated content) dalam sekali sentuh, menggunakan berbagai macam gawai yang ia punya. Publikasi gagasan kini tidak lagi dikuasai oleh media massa tradisional (cetak maupun elektronik) atau mereka yang punya modal. Siapapun bisa menjadi produsen dan distributor informasi di jagad internet. Gelombang euforia pun melanda: media sosial menyediakan ruang publik dan menjadi pengejawantahan demokrasi era baru. Setiap individu memiliki kesempatan dan sarana untuk memproduksi, mendiseminasi, serta mengonsumsi informasi apapun.

Lalu tibalah kita pada akhir tahun 2009. Ketika itu, tanpa pengumuman gembor-gemboran, Google tengah membuat perubahan besar dalam tubuh mesin pencari paling populer sejagad raya itu. Tertulis dengan senyap di blog korporat Google tanggal 4 Desember, tertumpuk di antara ringkasan mingguan tentang “top search terms”, sebuah paragraf menjanjikan personalisasi pencarian bagi semua orang. Google mulai menggunakan sederet algoritma komputer untuk membuat perkiraan akan siapa diri kita dan situs-situs seperti apa yang sepertinya kita suka. Perkiraan itu didasarkan pada 57 sinyal atas perilaku online kita, mulai dari jenis browser yang kita pakai hingga keyword apa yang dipakai dalam pencarian melalui Google. Bahkan ketika kita sudah log out dari Google, algoritma komputer itu akan merekap jejak klik mouse kita dan menjadikannya sebagai dasar atas prediksi situs dan konten seperti apa yang akan kita suka. Supaya apa? Supaya Google bisa menyediakan atau mengarahkan kita kepada konten maupun produk informasi yang paling sesuai dengan profil diri dan selera kita. Itulah mengapa ia disebut personalisasi. Dasar kemunculan personalisasi ini sedikit banyak dirangkum oleh pernyataan founding father-nya Google, Eric Schmidt, yang meyakini bahwa apa yang sesungguhnya diinginkan pengguna dari Google adalah tell them what they should do next.

Personalisasi dan kustomisasi ini awalnya bertujuan untuk melanggengkan pengiklan untuk memasang iklan kepada target audiens yang tepat. Sifat Web 2.0 memungkinkan user-generated content muncul, informasi menjadi lebih personal dan terspesialisasi. Lalu lahirlah audiens yang terpecah-pecah (fragmented audience). Kalau dulu, audiens adalah sebuah keluarga yang berkumpul di ruang keluarga untuk menonton televisi, karyawan satu kantor yang bareng-bareng mendengarkan radio, atau warga yang beramai-ramai membaca koran di Kantor Kelurahan. Mereka menikmati informasi dari media yang sama, karenanyalah audiens disebut massa. Namun luasnya ragam saluran media dan spesifiknya informasi yang bisa didapat kini memungkinkan setiap pengguna internet bebas memilih konten informasi apapun dari platform media mana. Audiens tak lagi dapat disebut massa. Dampaknya, pasar media menjadi niche: ceruk kelompok audiens yang kecil namun memiliki minat yang spesifik. Maka, iklan yang ditampilkan lewat media kini harus lebih relevan bagi pengguna dengan karakteristik spesial ini.

Dari sini, formula dan strategi bisnis di internet menjadi amat sederhana: apabila informasi yang diberikan oleh situs internet semakin relevan (secara personal), maka semakin banyak iklan yang dapat dijual, dan semakin tinggi kemungkinan produk dalam iklan itu akan dibeli. Toko buku Amazon membuktikan keampuhan formula ini ketika mereka memasang algoritma yang dapat memprediksi apa yang diinginkan setiap pengunjung situs tersebut dan menampilkannya di toko virtual. Begitu juga dengan Netflix, Yahoo!, YouTube, Microsoft Live, dan lain-lainnya.

Iklan yang kita dapatkan di internet adalah iklan-iklan yang pernah kita kunjungi sebelumnya. Saya ingat akhir tahun lalu. Ketika sedang dalam persiapan hijrah ke Melbourne untuk sekolah, saya sibuk berselancar dari situs ke situs untuk mencari tempat tinggal. Setelahnya, iklan rumah dari Domain.com.au selalu saja muncul ke situs manapun saya berkunjung. Anda juga begitu, kan? Bahkan jika kita tak hanya windows shopping. Setelah kita membeli satu set eyeshadow dari sebuah merek, berikutnya iklan lipstik dan maskara dengan merek sama akan membuntuti Anda saat membaca berita dari Detik.com. Personalisasi dan kustomisasi menjadikan kita dan histori kita di internet menjadi bahan bakar utama strategi targeted advertising. Personalisasi, adalah bentuk barter antara layanan gratis yang diberikan kepada kita untuk mengakses informasi dengan data-data personal kita di internet.

Permasalahan mulai muncul ketika algoritma, prediksi, dan personalisasi di internet ini tak hanya berdampak pada periklanan. Algoritma tidak hanya “menentukan” apa yang ingin (dan akan) kita beli, namun juga menentukan rupa informasi yang akan kita terima. Algoritma ini menentukan daftar berita yang muncul di halaman depan Yahoo!, rekomendasi video yang perlu kita tonton di YouTube, rekomendasi tempat makan yang oke melalui Foursquare, dan tentu saja, isi News Feed di Facebook. Semua informasi itu ditentukan oleh deretan kode komputer berdasarkan dengan siapa kita paling sering berinteraksi di medsos, konten seperti apa yang paling sering kita like atau share, video atau gambar yang paling sering kita klik, berita macam apa yang paling sering kita simak, dan di lokasi mana kita paling sering “check-in”. Algoritma yang tadinya “hanya” mengorkestrasi iklan yang kita lihat, kini juga mengorkestrasi hidup kita.

Sebagaimana dicontohkan Eli Pariser dalam bukunya “The Filter Bubble: What the Internet is Hiding from You”, pencarian kita di Google menggunaan keyword yang sama persis akan menampilkan hasil yang berbeda tergantung profil dan jejak seseorang di internet. Saya pernah mencobanya dengan teman-teman. Kami mengetik “batik” di Google. Hasil yang saya dapatkan adalah definisi dan macam-macam batik serta informasi wisata di Indonesia yang berkenaan dengan batik. Sementara hasil pencarian yang didapat teman saya kebanyakan tentang penjual online batik tulis. Ini terjadi karena saya saat ini sedang berada di Australia dan algoritma berpikir saya ingin liburan ke Indonesia dan tak paham tentang batik. Sementara kawan saya berada di Indonesia dan merupakan seorang pembelanja online yang aktif.

Algoritma, secara fundamental telah mengubah cara kita berjumpa dengan informasi dan gagasan-gagasan di internet, terutama medsos. Semua dipersonalisasi sehingga yang kita terima adalah yang diprediksi oleh algoritma sebagai yang paling sesuai dengan kecenderungan profil kita, yang paling kita suka. Hal-hal di luar kategori “apa yang kita suka” itu disaring oleh algoritma dan dianggap tak relevan sehingga tak perlu muncul di laman akun Facebook kita. Eli Pariser memandangnya berbahaya karena kita menjadi hidup dalam “filter bubble”. Kita tinggal dalam gelembung yang di dalamnya hanya ada tiga hal: kita, ide kita, serta informasi tentang hal-hal yang mendukung ide kita. Kita memiliki kesempatan yang amat kecil untuk menerima informasi di luar itu.

Jadi, meski saya berteman dengan hampir 1700 akun lainnya di Facebook, yang tampil di dalam News Feed saya adalah update-update informasi dari paling sekitar 30-50 orang saja. Mereka yang itu-itu saja, yang saya paling sering bertukar jempol atau komen, atau yang status-status dan informasi yang dibaginya paling sering saya baca. Lalu, berita dari 1650 orang lagi, pada ke mana? Tak akan tampak di News Feed saya jika saya tidak dengan sengaja mengunjungi halaman profilnya satu persatu lalu menyumbang like dan jempol atau berbagai bentuk jejak interaksi lainnya. Kalau saya sudah melakukan itu, nah baru dia akan muncul kelak di News Feed saya. Jika tidak begitu, sangat mungkin saya tidak akan pernah mendengar apapun tentangnya di Facebook. Ya, hanya karena saya bukan fans PKS dan jarang berinteraksi dengan kawan di Facebook yang merupakan kader partai tersebut, bukan berarti saya tidak suka dan tak ingin melihat konten informasi tentang kawan saya itu dan berita tentang PKS yang dibaginya. Tapi kemudian algoritma menganggapnya demikian lalu menyaringnya, menganggap saya tak membutuhkannya. Efek lanjutannya, sejalan dengan kita yang semakin ke sini semakin menyandarkan diri pada Facebook untuk mendapatkan informasi, kita bisa memandang dunia hanya berdasar apa yang tampil di filter bubble kita. Padahal, Anda tahulah apa isinya Facebook, kan? Kita berpikir kebutuhan informasi kita sudah terpenuhi dengan mengakses Facebook dan filter bubble kita. Padahal, sekali lagi, Anda tahulah apa isinya Facebook, kan?

Oh, iya, tentu saja sebagai manusia kita memiliki kecenderungan untuk hanya mengunjungi situs informasi yang kita suka, hanya mengonsumsi media yang menarik bagi kita, dan berinteraksi dengan kawan yang kita kenal baik, apalagi yang idenya sejalan sama kita. Kita punya kecenderungan natural untuk mengabaikan hal-hal yang berkebalikan dengan diri kita. Dalam dunia psikologi, ini disebut homophily tendency. Jika saya memasuki sebuah ruangan yang semua orang di dalamnya tidak saya kenal kecuali Anda, hampir bisa dipastikan saya akan pertama menghampiri Anda karena kita sudah saling mengenal. Di Facebook pun, saya cenderung hanya akan menerima permintaan pertemanan dari orang-orang yang memiliki mutual friends lebih dari lima. Lebih banyak lebih baik. Alasannya selain kenyamanan juga keamanan. Apalagi, dari dulu juga kita diajari untuk “tidak bicara pada orang yang tak dikenal”.

Selain itu, filter atas informasi juga diperlukan. Sebelum zaman medsos tiba, mekanisme penyaringan berita juga sudah dilakukan di ruang redaksi media massa. Mekanisme ini disebut gatekeeping process. Apalagi di era big data seperti saat ini, ketika dalam satu menit ada 277 ribu kicauan di Twitter, 2.46 juta konten dibagi di Facebook, 240 juta e-mail terkirim, 72 jam video diunggah ke Youtube, dan empat juta kata kunci dicari di Google. Informasi yang kita dapatkan amat sangat banyak dan kita perlu bantuan untuk membuatnya menjadi bermakna, sebab kalau tidak miliaran informasi hanya akan terbuang begitu saja (information overabundant). Semacam jika saya berada di rumah yang sangat berantakan karena ada banyak sekali barang kecil dan besar, berbagai bentuk dan kegunaan. Saya perlu bantuan untuk menempatkan barang-barang itu di kotak-kotak yang berbeda sesuai bentuk, warna, guna, kemudian kotaknya harus diletakkan di ruang tamu atau di gudang. Seperti itulah filter dan kurasi informasi dibutuhkan. Kita bisa pusing kalau semua informasi muncul begitu saja tanpa kita bisa menentukan mana yang paling prioritas untuk dibaca. Kita perlu sistem yang bisa merekomendasikan mana yang harus kita baca, mana yang perlu diabaikan. Dengan algoritma di Facebook, rekomendasi itu bahkan lebih menyamankan dan meyakinkan kita karena dibuat berdasarkan kecenderungan perilaku kita dan teman-teman kita.

Lalu, apa yang salah dengan filter bubble?

Danah Boyd dalam pidatonya di Web 2.0 Expo tahun 2009 memperingatkan bahwa kecenderungan homofili yang dikombinasikan dengan filter bubble bisa membuat kita mengonsumsi konten yang belum tentu benar-benar bermanfaat bagi kita maupun orang lain, hanya karena kita suka dan tertarik. Dosen saya di kampus, Alex Lambert, mengkritisi filter bubble karena mengecilkan kesempatan kita untuk mendapatkan pengalaman kosmopolitan, sebuah perjumpaan dengan perbedaan-perbedaan yang sebenarnya dapat memperkaya pengetahuan dan diri kita. Eli Pariser menyebut filter bubble memengaruhi kemampuan kita memilih cara menjalani hidup. Untuk menjadi penulis atas sejarah hidup kita sendiri, kita harus aware akan adanya keragaman pilihan, budaya, gaya hidup. Tapi filter bubble bisa menggiring kita pada determinisme informasi semata: apa yang kita klik saat ini kemungkinan besar adalah apa yang akan kita klik lagi di lain kali. Bisa kita bayangkan, informasi yang kita dapatkan dengan pertimbangan ini bisa membuat kita menjadi berpikiran sempit.

Buat saya, filter bubble bisa mengurangi elemen kejutan dan serendipity (kebetulan) dalam hidup. Hal-hal asing, meski terkesan menakutkan di awal, bisa saja memberi makna dan pengetahuan baru bagi hidup kita. Sama saja dengan kita yang sedang bosan dengan rute berangkat kerja yang itu-itu saja, lalu ingin mengambil rute berbeda di suatu ketika. Jarak yang diambil memang lebih jauh, namun dengan melalui rute itu kita jadi tahu sedang ada perbaikan jalan baru, ada rumah makan atau toko sepeda yang tampaknya menarik, sedang ada salon yang baru buka dan kasih promo. Kadang tak ada ruginya untuk berjumpa dengan hal-hal baru, bukan?

Kathleen Azali dalam buku bunga rampai “Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan” menambah semua kritik terhadap filter bubble. Ia mengaitkan filter bubble dengan indikasi berkurangnya toleransi dan kemampuan adaptasi terhadap perbedaan. Kita makin sulit berempati dan menemukan landasan yang sama dengan orang yang memiliki pendapat dan paham yang berbeda. Makanya jangan heran kalau Anda melihat perilaku pengguna media sosial amatlah berkebalikan dengan visi demokrasi. Saya melihat orang-orang menjadi lebih terkotak-kotak, cenderung berpikiran sempit dan mudah sekali menghakimi orang lain yang berbeda pendapat/pendirian dengannya. Log in ke Facebook dan Twitter rasanya seperti masuk ke arena pertempuran. Perang opini berlangsung tiap hari dan hanya Tuhan yang tahu kapan akan berakhir. Buat saya bukan perbedaan opininya yang menjadi masalah, namun cara mereka yang amat kasar saat beradu argumen tak pelak membuat saya resah. Padahal saya tahu mereka orang-orang terpelajar, namun cara mereka berkicau di jagad medsos macam mereka tak pernah diajari etika sama gurunya.

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan? Kita perlu memperluas pergaulan kita dengan cara menyiasati filter bubble. Ya, sulit bagi kita untuk menghindari filter bubble. Algoritma sudah diterapkan di sisi manapun di internet, terutama medsos. Selain itu, filter bubble tetap dibutuhkan untuk menghindari kita mabuk karena kebanyakan informasi. Hal yang bisa kita lakukan untuk “mengakali” filter bubble adalah mengatur ulang hubungan kita dengan medsos. Cobalah bereksperimen dengan Facebook. Mulai saat ini, saya akan menerima pertemanan dari siapapun meski tanpa mutual friends, saya ingin ubah Settings mengenai kepada siapa saya ingin berbagi privasi profil, juga mencoba berinteraksi dengan teman-teman Facebook yang saya bahkan hampir tak pernah sadar kami berteman. Bagaimana dengan keamanan? Bagaimana jika orang yang tak memiliki mutual friend itu ternyata memiliki maksud buruk untuk melakukan penipuan? Itu sebenarnya berkaitan dengan kedewasaan dan kesadaran dalam menggunakan medsos secara sehat, sih. Tetaplah simpan data pribadi seperti nomor telepon dan alamat rumah untuk diri sendiri saja, kecuali untuk keperluan berbisnis atau jualan online. Hindari pula mem-posting hal-hal (berupa teks dan multimedia) yang terlalu pribadi di media sosial daring. Pintar-pintarlah menyaring berita dan biasakan cek-silang informasi yang kita dapatkan. Ya, pokoknya yang kayak-kayak gitu, lah.

Untuk membawa warna dan pengalaman lebih, cobalah media sosial alternatif yang terangkum di sini. Media sosial Diaspora, contohnya, tidak melakukan personalisasi sebagaimana dilakukan Facebook. Medsos ini beroperasi dengan dana yang didapat dari crowdfunding, jadi tidak ada keperluan baginya untuk melakukan personalisasi dan kustomisasi atas akun kita atau menjual data personal kita kepada pengiklan. Server penyimpan data-nya tersebar di seluruh dunia dan kita bisa memilih mau menyimpan data di server yang mana. Diaspora memiliki fitur cross-posting ke Facebook. Jadi, misalkan Anda update status akun di Diaspora, teman-teman Anda di Facebook bisa melihatnya. Maknanya apa? Teman-teman tidak akan merasa “kehilangan” meski Anda sudah berpindah ke Diaspora. Cross-posting ini juga bisa menjadi sebentuk “undangan” bagi jamaah Facebook untuk mencoba hijrah ke Diaspora pula. Kemudian, sesekali kunjungi Duckduckgo, mesin pencari alternatif yang menjanjikan tidak akan mengambil, menyimpan, dan membagi jejak informasi personal kita kepada pihak ketiga. Jadi, tidak ada iklan yang akan membuntuti kita. Informasi yang kita dapatkan juga akan menjadi lebih beragam dan lebih luas, tidak harus sesuai dengan selera dan profil kita.

Terakhir, namun tak kalah utama, kita harus menyadari bahwa filter bubble juga dimotori oleh kecenderungan homofili dalam diri kita. Karenanya, perlu ada pula kesadaran bahwa perbedaan dan keanekaragaman bukanlah ancaman dan membuat kita harus pergi mengasingkan diri darinya. Hal yang perlu kita lakukan adalah menundukkan stereotip dan memadamkan syak wasangka terhadap orang lain yang berbeda dengan diri kita. Bukalah diri untuk bergaul dengan orang asing. Berhentilah sejenak menjadi juri bagi hidup orang lain. Alih-alih, cobalah kenali, pahami, perluas pandangan dari berbagai sisi. Dengan begitu saja, kita sudah berkontribusi dalam mewujudkan ruang publik yang sesungguhnya di dunia media sosial.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s