Malaikat Tanpa Sayap

Sebentar lagi saya dan suami mengkhidmati setahun pernikahan kami. Mau tak mau, saya merenung. Apa saja yang sudah kami lalui? Apa saja yang sudah kami dapat? Sampai mana pencapaian kami? Adakah kualitas kami sebagai manusia maupun sebagai suami dan istri sudah meningkat?

Sebagai istri, ada banyak hal yang belum bisa saya penuhi untuk suami. Selalu ada saja yang saya rasa kurang di setiap hari. Saya kerap merasa bersalah karena bakti saya untuk beliau tak kunjung menuju sempurna. Standar “istri yang baik” -yang saya tetapkan sendiri- belum pernah pula saya capai.

Continue reading “Malaikat Tanpa Sayap”

Advertisements

Jangan Berhenti di Sosok Kartini*

Perempuan. Hiduplah bebas, percaya diri, dan mandiri. Sumber foto: http://www.gettyimages.com

Sejak berhasil meletakkan dasar pemikiran tentang anti-diskriminasi terhadap perempuan, Raden Ajeng Kartini ramai dibunyikan sebagai feminis sekaligus pahlawan emansipasi perempuan Indonesia.

Selama hidupnya, Kartini memang banyak melontarkan kritik pedas pada orang-orang kolonial. Lewat surat-suratnya yang tanpa henti pada teman Belandanya, Stella Zeehandelaar, Kartini mengecam praktik pingit pada gadis-gadis Pribumi.

Continue reading “Jangan Berhenti di Sosok Kartini*”

Tak Setara Gender Sejak Kecil

Sebelum berangkat ke kantor pagi ini, saya singgah sebentar di sebuah lapak permak tas dan sepatu. Niatnya ingin mereparasi tas kesayangan yang ritsletingnya sudah simelekete. Baru saja turun dari motor, saya melihat adegan menarik.

Dua anak kecil usia 3-4 tahun – satu laki-laki satu perempuan – sedang menangis. Asumsi saya, mereka habis bertengkar. Sang ibu, yang satu tangannya sibuk membawa plastik belanjaan, berusaha melerai. Ia berkata sambil menowel pipi anak laki-lakinya:

Ra sah nangis! Tukaran wae, marai mumet…” (Kalau nggak salah sih begitu, I’m vaguely remember, hehe)

Continue reading “Tak Setara Gender Sejak Kecil”

Allah Tak Pernah Ingkar Janji

Atas segala anugerah-Nya, yang membuat saya merasa seperti orang paling berbahagia di dunia, saya hanya ingin bilang bahwa: Allah selalu menepati perkataan-Nya.

Bilanglah tulisan ini tak begitu penting lagi terlalu personal untuk dipahami orang lain di luar diri saya. Sebab memang, ini hanyalah bentuk kesungguhan pribadi untuk mengucap berjuta terimakasih pada-Nya.

Ia belum pernah menyerah pada saya, hamba-Nya.

Tak sekali pun melepas genggaman tangan saya.

Pantang meninggalkan saya sendirian saat saya berjelaga dan berdosa.

Dia justru sabar menanti saya kembali.

Melingkupkan kasih sayang-Nya pada saya yang bebal ini.

Kala saya melata menuju-Nya, Ia hampiri saya dengan berlari.

Waktu saya berpaling, Ia tarik-tarik lengan saya supaya batal pergi.

Ya, katakanlah ini sajak sarat melankoli.

Tapi sungguh, bagi saya, Ia selalu suci dalam janji.

Tabik.

Coretan Jalanan dan Moral yang Berceceran

kalau melihat pesannya, masihkah coretan jalanan dianggap tak bermoral?
kalau melihat pesannya, masihkah coretan jalanan dianggap tak bermoral?

Foto ini saya ambil dalam perjalanan pulang kerja kemarin senja. Saya melewati sebuah kawasan pemukiman yang warganya bertetangga dengan rel kereta api yang bermuara di Stasiun Kereta Api Lempuyangan Yogyakarta. Jangan tanya ini di sebelah mananya stasiun Lempuyangan. Saya buta arah, saya tak paham Timur, Tenggara, Selatan, atau Barat Daya kalau ditembak jarum kompas dari posisi saya ketika itu dengan stasiun. Pokoknya di situ deh. Deket sama tempat pembuangan sampah, pos ojek, dan rel kereta api yang tanpa palang pengaman.

Oke.

Mata saya berhenti pada rambu STOP itu ketika melihat kata ‘violence’ di bawahnya, lalu secara refleks tangan saya mengambil telepon seluler untuk kemudian membidik objek dengan kamera ponsel. Saya pikir, betapa besarnya kepedulian sang penulis kata “violence’ pada kekerasan, hingga ia menyuarakannya lewat coretan jalanan.

Selama ini, dengan menggunakan selera pada umumnya (common sense), kita bilang bahwa coretan jalanan adalah bentuk vandalisme, wujud naluri suka merusak. Karenanya, pencoret jalanan jadi musuh bersama. Mending dibikin mural sekalian daripada corat-coret nggak jelas di tembok, tiang listrik, bahkan jalan raya.

Ditinjau dari segi visual, mural memang lebih ramah mata. Dengan gambar, kartun, karikatur, atau ilustrasi warna-warni, mural menjadi bisa diterima oleh orang pada umumnya. Tapi coretan jalanan? Siapa yang tak gemas melihatnya? Apalagi, para pencoret sepertinya alergi membiarkan tembok atau fasilitas publik terlihat bersih, karena mungkin terlihat membosankan. Sudah bagus dinding dicat putih bersih, tak sampai 24 jam sudah belepotan lagi dengan grafis-grafis sederhana penanda nama gank yang sebenarnya agak susah dibaca. Kalo dinding mah mungkin masih lumayan, tinggal dicat ulang. Lain hal kalo yang jadi korban adalah jalan raya. Baru saja rampung pengaspalan, besoknya tulisan “SINTA I LOVE YOU”, misalnya, sudah bersaing dengan garis marka di tengah jalan. Lha kalo begini, apa iya harus diaspal lagi?

Sepertinya tangan kita kadang terlalu kreatif sehingga selalu gatal untuk meninggalkan jejak. Saya masih ingat jaman sekolah dulu, tempat duduk saya tak pernah lepas dari coretan pulpen, spidol, atau tipe-x. Dan ups, saya juga dulu berkontribusi untuk menuliskan “Tiwi III-E”, hehe..

Tapi, mentang-mentang bersifat merusak dan mengganggu, jangan lantas menarik garis lurus antara coretan jalanan dengan moral. Sebab, ada satu hal yang saya tandai dari segala bentuk coretan di tempat publik, entah mural, graffiti, atau sekadar coretan ngasal saja. Hal itu adalah pesan. Siapapun dia, lewat jalanan ia menyampaikan pesannya, protesnya, idenya, gagasannya, atau kritiknya. Ya, baik. Caranya tak tepat, dan teteup… tak bermoral karena merusak ruang publik. Tapi ruang publik itu sebenarnya punya siapa? Apa para pencoret sudah memiliki keterwakilannya di ruang itu?

Baik. Kalau lalu Anda masih menggugat soal moral, saya sodorkan foto ini. Lebih bermoral mana, dia yang mungkin tinggal di pemukiman dekat rel kereta api, daerah yang identik dengan kekumuhan dan pengangguran, ketika moral sudah dianggap tercecer tak beraturan, namun telah menambahkan kata “violence” itu pada rambu STOP, atau mereka yang hidup nyaman tanpa kepikiran beban dapur bulanan, namun menyiksa pembantunya hanya karena lauk makan siang dimasak keasinan, memukul anaknya hanya karena hasil ujian tak memuaskan, atau bahkan diam saja membiarkan kekerasan tumbuh subur di halaman belakang rumahnya yang rimbun teduh oleh pepohonan?

Tabik.

Tadinya

Saya sangat tertarik pada isu-isu sosial. Dan saya sangat menyukai penulis-penulis yang humanis dan sangat peduli pada isu-isu wanita, lingkungan, anak-anak, kemiskinan, dan lain-lain. Bagi saya, mereka adalah kiblat saya dalam memaparkan gagasan untuk kemudian menuangkannya dalam tulisan.

Karenanya saya mengidolakan Romo Mangun, Maria Hartiningsih, Pramudya Ananta Toer, Goenawan Muhammad, Sena Gumira Ajidharma, Sapardi Djoko Damono, Bre Redana, dan sederet tokoh lainnya. Yang menurut saja, jika ingin menulis, lihatlah bagaimana mereka menulis. Serius, bernas, argumennya tegas, dan idenya dipaparkan dengan sangat terarah.

Lalu, tadinya saya ingin menjadikan blog ini sebagai tempat mengumpulkan tulisan yang lebih serius. Media ekspresi yang lebih merefleksikan intelektualitas, dengan menjadikan berbagai fenomena terbaru sebagai embrionya. Isu-isu media massa, politik, ekonomi, pendidikan, ingin saya eksplorasi dengan tujuan mulia; sumbang suara bagi kemajuan negara. Ya sama seperti tokoh-tokoh di atas itu lah.

Mulailah saya mencoba berkenalan dengan tema-tema yang saya tak pernah dekati sebelumnya. Saya bekerja keras memahami istilah, inti permasalahan, cabang topik, dan tokoh utama dari sekian banyak isu yang sedang berkembang. Saya membaca blog para pembesar yang tulisannya saya anggap berkualitas dan intelek. Saya coba resapi argumen mereka, mana yang kira-kira bisa menjadi kutipan pendukung bagi tulisan saya. Setelah mengencangkan urat nadi untuk berpikir, baru saya menulis, dengan harapan membara bahwa tulisan saya bisa merepresentasikan bahwa “Hei, gini-gini saya ini orang dengan pengetahuan luas loh!”.

Hasilnya, tulisan saya kopong. Kosong lagi ompong. Sebab yang menulisnya bukanlah saya. Idenya bukan original milik saya. Dan jiwa saya tak bisa menyatu dengan tulisan saya.

Tak jarang saya berhenti menulis ketika sudah separuh jalan. Sebab saya merasa tulisan saya tak ada isinya. Tak jelas di mana posisi saya. Suram dasar argumennya. Malah jadi sok tahu dengan menggunakan istilah-istilah yang juga baru saja saya dengar, diragukan paham atau tidaknya.

Lalu saya hapus artikel-artikel sampah bertamengkan “demi intelektualitas” itu, baik yang masih di draft ataupun yang sudah di-publish. Saya malu.

Menulis adalah ruang ekspresi, ada proses kreatif yang terjadi saat menciptakannya, bukan deretan huruf muluk yang ingin mengesankan intelektualitas. Menulis sama saja dengan arena untuk menjadi diri sendiri, bukan menjadi orang lain hanya karena ingin membangun citra atas identitas. Menulis tak pernah menuntut agar menunjukkan kualitas, melainkan nilai-nilai totalitas, minat, dan kegigihan untuk menjadikannya kebiasaan. Menulis berawal dari kepekaan indera untuk menyerap pesan-pesan tersirat, tersurat, bahkan imajiner, yang melekati setiap peristiwa, lalu menerjemahkannya ke dalam pilihan kata.

Menulis adalah soal rasa, jadi jangan dipaksa.

Jika kualitas tulisan saya tak “setinggi” Maria Hartiningsih, lalu kenapa (ngomong-ngomong tulisan yang tinggi itu bagaimana sih?)? Kalau cerpen saya tak sedalam Romo Mangun, apa artinya saya tak punya bakat? Bila artikel saya tak seinspiratif Goenawan Muhammad, apa saya masuk neraka? Umpama puisi saya tak seromantis “Aku Ingin” milik Sapardi Djoko Damono, lha yo ngopo?

Tadinya saya ingin membuat blog ini dipenuhi dengan artikel yang nanti akan dikutip banyak orang (padahal saya sendiri menambal tulisan dengan kutipan di sana-sini), tapi tidak jadi. Kini saya ingin blog ini dihiasi dengan penuangan ide dan penerjemahan pengalaman yang jujur. Sebab saya sendiri belum khatam mencerna pesan Allah dalam tiap jengkal perjalanan dan tiap kembara pengalaman. Saya masih harus mengasah kepekaan. Pori hati saya masih harus diperbesar agar siap menyerap pelajaran-Nya. Masih banyak yang bisa saya elaborasi dari cermin diri sendiri, jadi tak perlu bergagah-gagah berdiri padahal hanya menjadi imitasi.

Tabik.

Menebak 2012

Bangsa Maya, yang pernah hidup di pedalaman benua Amerika ratusan tahun lalu, meramalkan bahwa pada tahun 2012 bumi akan mengalami bencana besar-besaran.

Mereka menyebut fenomena ini dengan istilah “pemurnian bumi” atau “penyelarasan galakasi (Galaxy Synchronization)”. Mereka meyakini bahwa sejak diciptakan 26.000 tahun yang lalu, bumi akan tiba pada siklus di mana ia harus terlahir kembali.

Dari masa 20 tahun antara tahun 1992-2012, bangsa Maya menganggap bumi sedang berada dalam periode penting sebelum masa pra-Galatic Synchronization. Mereka menamakannya: The Earth Regeneration Period (Periode Regenerasi Bumi). Selama periode ini Bumi akan mencapai pemurnian total. Setelah itu, Bumi kita akan meninggalkan jangkauan sinar galaksi dan memasuki tahap baru: penyelarasan galaksi.

Silakan waspada, sebab menurut perhitungan kalender Maya, 31 Desember 2012 akan menjadi hari berakhirnya peradaban umat manusia. Sesudah itu, kita akan memasuki peradaban baru total yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sekarang. Pada hari itu, ketika musim dingin tiba, matahari akan bergabung lagi dengan titik silang yang terbentuk akibat ekliptika (jalan matahari) dengan ekuator secara total. Saat itulah, matahari tepat berada di tengah- tengah sela sistem galaksi, atau dengan kata lain galaksi terletak di atas Bumi, bagaikan membuka sebuah “Pintu Langit” saja bagi umat manusia.

Pendek kata, kehancuran besar menanti penghuni peradaban di bumi di akhir tahun 2012 nanti, tidak sampai tiga tahun lagi. Tak main-main, Mama Laurent bahkan memprediksikan, di hari itu penduduk Indonesia akan punah 40%-nya.

Tak percaya ramalan? Baiklah. Bagaimana dengan ini:

Menurut Laurence E Joseph dalam Apocalypse 2012, tanggal 21/12/2012 merupakan titik balik musim dingin tahunan ketika belahan Utara Bumi berada di titik terjauh dari Matahari sehingga siang sangat pendek.

Pada tanggal itu, tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya, akan menutupi pemandangan pusat Bimasakti dari Bumi. Para astronom Maya Kuno menganggap titik pusat ini sebagai rahim Bimasakti. Keyakinan itu didukung banyak pembuktian para astronom kontemporer bahwa di situlah tempat terciptanya bintang-bintang galaksi.

Saat ini, sejumlah lembaga penelitian ilmiah mengenai atmosfer, ruang angkasa, dan teknologi di Barat menduga ada lubang hitam tepat di pusat itu yang menyedot massa, energi, dan waktu, yang menjadi bahan baku penciptaan bintang masa depan.

Untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun, energi yang mengalir ke Bumi dari titik pusat Bimasakti akan sangat terganggu pada 21/12/2012, tepatnya pukul 11.11 malam. Semua itu disebabkan guncangan kecil pada rotasi Bumi (www.indofamily.net).

Dan jika kita bicara soal jagad yang raya ini, sekecil apapun terputusnya energi, dan seringan apapun guncangan pada rotasi bumi kita, hasilnya adalah rusaknya keseimbangan mekanisme vital bumi dan tubuh semua makhluk, termasuk manusia.

Jangan kaget jika fenomena yang diangankan seperti “kiamat” ini ternyata sudah di depan mata. Sebab, tanpa mengkaji ramalan atau data astronomik pun, rasanya Hari Akhir memang sudah begitu dekat dengan kehidupan penduduk bumi.

Sadar atau tidak, telah banyak “kiamat-kiamat” yang kita ciptakan sendiri bagi bumi. Peningkatan permintaan akan pasokan kayu, kelapa sawit, dan kayu murah (ilegal), komoditi tambang memberikan kesempatan yang tidak dilewatkan oleh pihak-pihak Indonesia untuk mengguduli hutan Indonesia, dan lebih parahnya lagi penebangan ilegal menyerobot lahan hutan konservasi bagi hewan-hewan terancam punah di Indonesia (http://susahmikir.wordpress.com).

Sudah tak terhitung pula makhluk bumi lainnya kita bikin punah. Sebutlah Orangutan, burung Cendrawasih, Komodo, yang kepunahannya secepat kita menarik napas. Oh, belum bosan dengan fakta tentang penggundulan hutan, bukan? Bagus. Sebab, Longgena Ginting dari WALHI menyatakan, kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3.8 juta hektar setahun. Artinya, ada 7.2 hektar hutan kita yang musnah hanya dalam satu menit (www.tempointeraktif.com).

Kalau melihat fakta ini, tak heran jika bumi sudah meregang, megap-megap menghela udara, jika air yang dikandung dalam perutnya tak dikonsumsi dengan baik oleh manusia-manusia yang dihidupinya. Tak begitu mengagetkan juga jika bumi sudah mengalami radang pernapasan akut, jika tiap inci porinya sudah tersumbat sampah dan limbah.

Dan pula tak membingungkan jika bumi terus “berkontraksi”, membagi rasa sakit pada seluruh umat yang memadati wajahnya. Rasa sakit yang kemudian menjelma dalam bentuk kejahatan, kebencian, dan peperangan antar makhluk.

Nah, haruskah kita bersiap untuk pindah planet sekarang juga?

Santai saja, tak perlu berlebihan menanggapi fakta ini. Pun, jangan pula bersikap seperti Mama Laurent dengan naifnya berkata bahwa “Tahun 2012 itu hanya akan terjadi bencana, bukan kiamat kok…”.. Well, yang menentukan kapan Kiamat terjadi, bukanlah manusia. Tapi Sang Pencipta. Dia yang menukarkan malam dengan siang, yang mengatur jatuhnya tiap milimeter titik hujan.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan bagi seluruh umat nabi Muhammad. Kapanpun terjadinya Kiamat, toh Tuhan sudah merisalahkan ketetapan-Nya. Tinta pena-Nya telah mengering untuk merencanakan ulang. Kapan saja bisa terjadi, tanpa kita tahu tanggal mainnya. Anggap saja kiamat sebagai pembebasan bagi kita, dari kepengapan dunia.

Sementara menunggu datangnya hari terakhir bagi kita untuk bernapas, tertawa, atau berduka, hidupkan saja hidup kita.

Tak pernah ada yang salah dari risalah Nabi untuk menghadapkan wajah hanya kepada-Nya, dalam segala hal yang kita lakukan. Tak pernah ada keraguan terhadap kekuasaan-Nya yang Maha Besar, pun ampunan-Nya yang mengatasi segala hal.

Jika datangnya bencana 2012 bisa semakin membuat kita mengenali dan dikenali-Nya. Maka, silakan datang saja…

Whisper words of wisdom…