Tak Setara Gender Sejak Kecil

Sebelum berangkat ke kantor pagi ini, saya singgah sebentar di sebuah lapak permak tas dan sepatu. Niatnya ingin mereparasi tas kesayangan yang ritsletingnya sudah simelekete. Baru saja turun dari motor, saya melihat adegan menarik.

Dua anak kecil usia 3-4 tahun – satu laki-laki satu perempuan – sedang menangis. Asumsi saya, mereka habis bertengkar. Sang ibu, yang satu tangannya sibuk membawa plastik belanjaan, berusaha melerai. Ia berkata sambil menowel pipi anak laki-lakinya:

Ra sah nangis! Tukaran wae, marai mumet…” (Kalau nggak salah sih begitu, I’m vaguely remember, hehe)

Continue reading “Tak Setara Gender Sejak Kecil”

Advertisements

Rumah Remang-Remang

Hampir di setiap daerah perbatasan di Indonesia, terutama di jalan lintas propinsi, sering ditemukan fenomena “Warung Remang-Remang”. Disebut remang-remang, karena warung ini memang hanya difasilitasi listrik seadanya. Para pengguna jalan kerap memanfaatkan warung ini untuk melepas lelah, minum kopi sejenak agar mata tetap cerah selama bepergian jauh. Tapi belakangan warung ini diimbuhi konotasi negatif. Pasalnya, selain karena penerangannya kurang, letak tempat ini lumayan terpencil, terlindung belukar bertungkai tinggi atau bahkan di area hutan. Tak jarang, warung “remang-remang” dijadikan lokasi praktik prostitusi ilegal.

Di Kalimantan Selatan (Kalsel), tempat yang “remang-remang” bisa Anda temukan di hampir seluruh wilayah propinsi ini. Di desa maupun kota, di waktu-waktu tertentu rumah remang-remang pasti ada. Bukan karena praktik prostitusi sudah sedemikian merajalela. Tidak pula karena Kalsel masih banyak hutannya. Tapi, rumah ini benar-benar remang-remang. Harfiah tanpa listrik, denotatif cuma diterangi cahaya lilin.

Continue reading “Rumah Remang-Remang”

Tiga Lagu Saja Cukup

Tiba-tiba sudah akhir bulan Juli. Saya jadi merasa berutang. Dulu sekali ketika saya mengaktifkan kembali blog ini, saya berjanji pada diri sendiri untuk secara rutin memposting tulisan. Minimal ada 2 tulisan selama satu bulan.

Dan sekarang Juli sudah benar-benar sampai di penghujung. Dan posting bulan ini baru ada 1, itu pun sebuah obituari untuk almarhumah nenek saya tercinta.

Baiklah, sekarang akan saya bayar utangnya. Saya ingin bercerita.

Pertengahan bulan Juni lalu (gila, ini pula seharusnya jadi konsumsi publik bulan lalu, aih!), saya berkesempatan menginjak kota Jakarta. Keperluan saya di kota bising ini adalah untuk menghadiri pernikahan salah seorang abang sepupu. Ia tinggal di Bekasi. Saya berangkat ke Jakarta menggunakan jasa penerbangan kelas ekonomi. Sampai di bandara, saya harus menunggu ayah saya yang datang dari Pekanbaru. Sejam menunggu, saya dan ayah akhirnya bertemu.

Continue reading “Tiga Lagu Saja Cukup”

Coretan Jalanan dan Moral yang Berceceran

kalau melihat pesannya, masihkah coretan jalanan dianggap tak bermoral?
kalau melihat pesannya, masihkah coretan jalanan dianggap tak bermoral?

Foto ini saya ambil dalam perjalanan pulang kerja kemarin senja. Saya melewati sebuah kawasan pemukiman yang warganya bertetangga dengan rel kereta api yang bermuara di Stasiun Kereta Api Lempuyangan Yogyakarta. Jangan tanya ini di sebelah mananya stasiun Lempuyangan. Saya buta arah, saya tak paham Timur, Tenggara, Selatan, atau Barat Daya kalau ditembak jarum kompas dari posisi saya ketika itu dengan stasiun. Pokoknya di situ deh. Deket sama tempat pembuangan sampah, pos ojek, dan rel kereta api yang tanpa palang pengaman.

Oke.

Mata saya berhenti pada rambu STOP itu ketika melihat kata ‘violence’ di bawahnya, lalu secara refleks tangan saya mengambil telepon seluler untuk kemudian membidik objek dengan kamera ponsel. Saya pikir, betapa besarnya kepedulian sang penulis kata “violence’ pada kekerasan, hingga ia menyuarakannya lewat coretan jalanan.

Selama ini, dengan menggunakan selera pada umumnya (common sense), kita bilang bahwa coretan jalanan adalah bentuk vandalisme, wujud naluri suka merusak. Karenanya, pencoret jalanan jadi musuh bersama. Mending dibikin mural sekalian daripada corat-coret nggak jelas di tembok, tiang listrik, bahkan jalan raya.

Ditinjau dari segi visual, mural memang lebih ramah mata. Dengan gambar, kartun, karikatur, atau ilustrasi warna-warni, mural menjadi bisa diterima oleh orang pada umumnya. Tapi coretan jalanan? Siapa yang tak gemas melihatnya? Apalagi, para pencoret sepertinya alergi membiarkan tembok atau fasilitas publik terlihat bersih, karena mungkin terlihat membosankan. Sudah bagus dinding dicat putih bersih, tak sampai 24 jam sudah belepotan lagi dengan grafis-grafis sederhana penanda nama gank yang sebenarnya agak susah dibaca. Kalo dinding mah mungkin masih lumayan, tinggal dicat ulang. Lain hal kalo yang jadi korban adalah jalan raya. Baru saja rampung pengaspalan, besoknya tulisan “SINTA I LOVE YOU”, misalnya, sudah bersaing dengan garis marka di tengah jalan. Lha kalo begini, apa iya harus diaspal lagi?

Sepertinya tangan kita kadang terlalu kreatif sehingga selalu gatal untuk meninggalkan jejak. Saya masih ingat jaman sekolah dulu, tempat duduk saya tak pernah lepas dari coretan pulpen, spidol, atau tipe-x. Dan ups, saya juga dulu berkontribusi untuk menuliskan “Tiwi III-E”, hehe..

Tapi, mentang-mentang bersifat merusak dan mengganggu, jangan lantas menarik garis lurus antara coretan jalanan dengan moral. Sebab, ada satu hal yang saya tandai dari segala bentuk coretan di tempat publik, entah mural, graffiti, atau sekadar coretan ngasal saja. Hal itu adalah pesan. Siapapun dia, lewat jalanan ia menyampaikan pesannya, protesnya, idenya, gagasannya, atau kritiknya. Ya, baik. Caranya tak tepat, dan teteup… tak bermoral karena merusak ruang publik. Tapi ruang publik itu sebenarnya punya siapa? Apa para pencoret sudah memiliki keterwakilannya di ruang itu?

Baik. Kalau lalu Anda masih menggugat soal moral, saya sodorkan foto ini. Lebih bermoral mana, dia yang mungkin tinggal di pemukiman dekat rel kereta api, daerah yang identik dengan kekumuhan dan pengangguran, ketika moral sudah dianggap tercecer tak beraturan, namun telah menambahkan kata “violence” itu pada rambu STOP, atau mereka yang hidup nyaman tanpa kepikiran beban dapur bulanan, namun menyiksa pembantunya hanya karena lauk makan siang dimasak keasinan, memukul anaknya hanya karena hasil ujian tak memuaskan, atau bahkan diam saja membiarkan kekerasan tumbuh subur di halaman belakang rumahnya yang rimbun teduh oleh pepohonan?

Tabik.

Membumikan Seni di Australia

Bagi sebagian orang, memahami seni memerlukan energi. Seni dianggap barang mewah yang berada di awang-awang, dan susah sekali untuk diraih dan dimengerti.

Perlu cukup pengetahuan, minat yang besar, dan keinginan kuat untuk bisa mengerti pesan dalam karya seni. Tak jarang, seni tinggi (high-art) diidentikkan dengan konservativisme, tua (old-fashioned), dan egoisme – karena hanya bisa dimengerti oleh pembuatnya.Anggapan itu terpatahkan ketika saya berkesempatan magang di Art Gallery of New South Wales, Australia, melalui program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia. Di galeri seni terbesar milik pemerintah negara bagian New South Wales ini, tak kurang dari 2.000 pengunjung memadati ruang pajang setiap harinya. Para penikmat seni itu berasal dari pelbagai kalangan dan usia; anak muda dengan gaya gothic/punk, eksekutif muda yang datang di waktu makan siang, para pensiunan, bahkan siswa-siswa kelas 1 SD.

Art Gallery of New South Wales (AGNSW) berdiri sejak zaman penjajahan Inggris, dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan seni rupa di Australia. Dari bangunannya, kita bisa melihat refleksi arsitektur Mediterania dari abad pertengahan. Di dinding terluar bangunan ini kita bisa menyaksikan “tiruan” dari karya-karya seniman besar Eropa seperti Michaelangelo dalam bentuk pahatan. Galeri ini memiliki 36.000 koleksi seni rupa (berupa foto, lukisan, gambar, keramik, patung, dan lain-lain), namun hanya 5% saja yang dipajang dalam lima lantai bangunan.

Meski bangunannya memberi kesan akan gaya Eropa yang konservatif dan kuno, galeri ini juga memajang karya seni dari kebudayaan lain. Seni khas Asia (termasuk kain Tapis dari Lampung, beberapa stupa dari Borobudur, serta patung Ganesha), Aborigin, dan berbagai karya seni kontemporer juga mendapat tempat di sini. Semua dirawat dan dipelihara dengan baik, ditata dengan begitu teratur dan nyaman dipandang.

Gaya arsitektur bangunan yang indah, keragaman dan kekayaan koleksi seni di galeri ini, mungkin adalah beberapa alasan mengapa orang-orang gemar sekali berkunjung. Hingga memang tak berlebihan jika galeri ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan di Australia.

Namun terlepas dari pesona bangunan dan karya seninya, AGNSW memiliki nilai lebih dalam hal pelayanan. Meski dimiliki dan dibiayai oleh pemerintah, para pegawai di AGNSW tetap memiliki integritas dan motivasi kuat untuk mengembangkan brand strategy dan image building melalui pelayanan yang berkualitas pada setiap pengunjung. Mereka selalu berinovasi dalam hal fasilitas untuk memudahkan para pengunjung menikmati karya seni yang dipajang.

Hal paling menarik dari fasilitas yang mereka sediakan adalah “Education Kit”. Ini adalah semacam brosur berisi segala informasi mengenai karya seni tertentu, yang ditujukan untuk para siswa sekolah. Ann MacArthur, Senior Coordinator di bagian Asian Art, membuat Education Kit ini untuk memudahkan para siswa memahami dan mengeksplorasi karya seni di AGNSW. Education Kit ini disusun lengkap dengan silabus dan daftar aktivitas yang dapat digunakan oleh para guru kesenian di dalam kelas, maupun ketika kunjungan ke galeri.

Ann menggagas ide dan menyusun Education Kit bersama sebuah tim. Anggota tim ini berjumlah 4-5 orang, yang kesemuanya harus memiliki latar belakang keguruan. Sebelum mulai menyusun, Ann dan timnya terlebih dulu berkonsultasi pada semacam dinas pendidikan di New South Wales, berkaitan dengan kurikulum dan pokok bahasan yang relevan untuk dieksplorasi. Setelah itu, tim edukasi ini akan menyelesaikan proyeknya selama 2-6 bulan, tergantung jenis instrumen yang dikerjakan.

Banyak instrumen dibuat dalam Education Kit. Ada yang berbentuk poster bergambar Buddha, misalnya. Di balik poster tersebut, terdapat beberapa topik bahasan yang bisa didiskusikan dalam kelas berkaitan dengan Buddha. Sebagai contoh, dari gambar Buddha yang sedang bersila, guru dan siswa bisa berdiskusi mengenai ajaran agama Buddha, pengaruh agama ini terhadap budaya, dan lain-lain. Tim edukasi di AGNSW selalu memberi penekanan (hi-lite) terhadap hal-hal penting yang harus diperhatikan oleh siswa dan guru dalam bentuk tulisan yang lebih tebal, ukuran lebih besar, atau di dalam sebuah gambar kotak.

Selain itu, ada pula yang berbentuk brosur. Ukurannya lebih kecil dan mudah dibawa ke manapun. Isinya sama lengkapnya dengan yang berbentuk poster, lengkap dengan instruksi edukatif untuk siswa.

Yang juga menarik adalah satu set “Art Speaks Other Language”, alat bantu ajar bagi guru bahasa asing di Australia yang juga ingin mengajarkan kesenian dan tak hanya bahasa. Misalnya, dalam seri “Art Speaks Japanese”, terdapat satu set (biasanya 30 gambar berukuran kertas A4) mengenai kesenian Jepang. Di balik gambar-gambar tersebut, ada bahasan detail yang disajikan dalam bahasa Inggris dan Jepang. Tak cukup sampai di situ, perlengkapan ajar ini dilengkapi sebuah audio CD yang berisi rekaman suara mengenai bahasan dalam masing-masing gambar, tentu saja dalam bentuk bi-lingual, Inggris dan Jepang. Semua bentuk Education Kit ini dapat diperoleh guru dengan cara membelinya langsung di AGNSW Shop dengan harga yang sangat terjangkau.

AGNSW juga melatih beberapa orang sukarelawan untuk menjadi guide atau pemandu bagi anak-anak sekolah. Tujuannya adalah agar anak-anak tersebut bisa mengerti makna lukisan diri Napoleon Bonaparte, misalnya, dalam “bahasa” anak-anak.

Pelajaran terpenting yang saya dapatkan dari sini adalah betapa besarnya penghargaan orang-orang di Australia terhadap seni. Begitu seriusnya Ann berusaha agar semua jenis seni bisa “turun ke bumi” dan jadi lebih mudah dipahami.

Hal-hal semacam itu sebenarnya juga bisa dilakukan di Indonesia. Masalahnya adalah, belum semua orang punya kesadaran untuk memperkenalkan seni dengan cara yang lebih mudah. Makanya, seorang kawan seprogram pernah berkata, “Semakin tinggi peradaban, semakin tinggi pula penghargaan terhadap seni”. Ia mengatakan itu sambil membandingkan peradaban Australia dan Indonesia. Bagi saya, ini tak cuma soal peradaban mana yang lebih baik. Namun juga soal kesungguhan untuk melayani dan menciptakan rasa nyaman. Dimulai dari ini saja, maka berbagai inovasi untuk membuat seni menjadi lebih ramah, akan mengikuti dengan sendirinya.

See you on the other side…

*Dimuat di Harian Banjarmasin Post, 15 Januari 2009 – dengan sedikit penyuntingan

Ozzies Down Under

Pepatah lama mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”. Makna kata-kata bijak ini benar-benar saya resapi dan buktikan selama mengikuti program Australia-Indonesia Youth Exchange Program 2008/2009.

Selama program berlangsung, setiap peserta dilepas di tengah-tengah komunitas Australia. Ini diwujudkan dengan tinggal bersama penduduk Sydney sebagai orangtua asuh (host family), dan magang di instansi atau kantor milik orang Australia. Tujuannya adalah untuk bisa mengenal lebih dekat kehidupan orang Australia, dan mewujudkan kesepahaman antar budaya (cross-cultural understanding).

Tadinya saya berpikir, Ozzies (sebutan untuk penduduk Australia) di Sydney – seperti laiknya penghuni kota besar – adalah kaum urban metropolis yang individualistik, egosentris, dan tak begitu peduli pada sesama. Ternyata saya keliru. Ozzies di Sydney adalah orang-orang yang ramah, bahkan sangat ramah.

Di suatu pagi, ketika saya sedang menunggu bus menuju tempat magang, hampir setiap orang yang lewat di depan halte menyapa saya: ”Morning!”, atau ”Hellow…”. Mereka menyapa saya dengan senyum sumringah mengembang. Padahal, mereka sama sekali tak mengenal saya. Dalam rasa heran, saya sempat bertanya dalam hati, apakah ini adalah hari saling menyapa se-Australia? Apa gerangan yang terjadi sehingga semua orang harus saling menyapa meski bahkan baru pertama kali berjumpa?
Belakangan saya sadari, pertanyaan-pertanyaan saya tak membutuhkan jawaban. Sebab, begitulah kebiasaan orang Australia. Mereka memang gemar bertukar salam, sapa, dan senyuman pada orang lain yang mereka temui hari ini. Ya, tak jauh beda dengan kita orang Indonesia, Ozzies adalah masyarakat yang santun dan terbiasa mengucapkan ”terimakasih” ketika mereka menerima pelayanan atau membayar sesuatu. Mereka juga selalu mengucapkan ”selamat tinggal” atau ”sampai jumpa”, pada waktu akan meninggalkan rumah, dan ”halo” atau ” hai” pada waktu kembali dari berpergian. Sebenarnya, ini hanya untuk memberitahukan kepada orang lain kalau mereka sedang melakukan sesuatu. Namun sapaan semacam ini membuat mereka merasa lebih dekat satu sama lain.

Ozzies memang sangat suka mengobrol.  Makanya, tak susah untuk memulai pembicaraan dan menjalin pertemanan dengan Ozzies yang baru kita kenal. Buka saja percakapan dengan membicarakan olahraga, cuaca, lalu lintas, atau topik-topik sepele apapun. Ozzies akan dengan senang hati meresponnya. Memang, kesannya mereka suka basa-basi. Tapi saya rasa basa-basi sedikit tidak buruk jika akhirnya kita bisa membangun relasi yang lebih baik, bukan?

Sebagai kompensasi atas kegemaran mereka mengobrol, Ozzies sering mengadakan berbagai macam acara untuk bersosialisasi, misalnya piknik, pesta kecil-kecilan untuk merayakan apapun termasuk hal-hal kecil pula, dan barbeque. Barbeque, atau sering disebut ”Barbie”, adalah piknik yang sangat khas Australia. Acara ”bebakaran” ini adalah sebuah kegiatan sosial yang umum, bersifat tidak formal dan biasanya mengundang kerabat dekat. Barbie sering sekali dilaksanakan di musim semi atau musim panas, ketika cuaca sedang cerah dan membawa suasana yang menyenangkan untuk bergaul. Saat barbeque, yang mengundang biasanya menyediakan menu utama yaitu daging bakar dan cocktail, sementara makanan-makanan ringan akan dibawakan oleh pihak-pihak yang diundang. Piknik a la Australia memang agak beda dengan kebiasaan kita di Indonesia. Dalam kultur kita, tamu yang diundang benar-benar dijamu oleh tuan rumah. Tapi di Australia, mereka lebih suka berbagi apa yang mereka punya di rumah masing-masing untuk dinikmati bersama. Meski demikian, itu bukan masalah besar bagi saya. Siapapun yang membawa atau menyediakan makanan, yang jelas nilai-nilai sosialisasi, keramahtamahan, dan keinginan untuk mengikat tali silaturahmi, rasanya sama besarnya baik di Indonesia maupun Australia.

Wujud lain dari etika pergaulan di Australia adalah dengan selalu menepati waktu alias on time terutama jika ada janji untuk bertemu. Ozzies sangat menghargai waktu. Setiap menit begitu berarti bagi mereka. Istilah ”jam karet” yang tak dikenal di sini. Bagi Ozzies, keterlambatan adalah sesuatu yang tidak sopan, dan jika kita tidak menepati waktu, itu sama kasarnya dengan kita meludah di depan seseorang. Itu berarti, kita tak menghargai orang lain yang telah meluangkan waktunya untuk kita.

Kebiasaan on time ini membawa dampak yang sangat positif bagi saya. Saya menjadi terbiasa untuk menepati waktu. Dampaknya, manajemen diri saya jadi lebih baik. Saya jadi lebih terbiasa untuk mempersiapkan hal-hal yang akan dilakukan esok hari sejak semalam sebelumnya dan tidak lagi menjadi deadline person yang melakukan segala hal dengan terburu-buru di detik-detik terakhir.

Pada akhirnya, saya bersyukur saya terlahir sebagai orang Indonesia. Saya lahir, tumbuh, dan besar dalam budaya yang mengutamakan keramahan dan penghargaan terhadap orang lain, serta berpikiran terbuka terhadap hal-hal baru. Karena itu, cukup mudah bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan karakter orang Australia. Dan saya cukup terkesan, di negara dengan budaya Barat yang kental ini, saya tetap menemukan pentingnya sopan santun dan sikap bersahabat terhadap orang lain. Sebab, siapapun pasti mengharapkan – dan senang – untuk diperlakukan dengan baik bukan?

See you on the other side…

Mimpi Menaklukkan Australia

Rasanya sudah lama sekali saya tak menyentuh blog ini. Semua gara-gara saya barusan ketiban durian runtuh, yaitu mengikuti program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia atau Australia-Indonesia Youth Exchange Program (PPIA/AIYEP) 2008/2009. Selama dua bulan terakhir saya tinggal di Sydney, dan kini saya sedang sibuk bergelut dengan community development program di Lumajang, Jawa Timur.

Saya tiba di Sydney, New South Wales tanggal 13 Oktober 2008 pagi. Saya dan 17 teman dari 17 provinsi lain di Indonesia, disambut oleh tim dari TCN (The Communication Network), our beloved big daddy Deane Edgecombe dan “tante” Suzan Piper. Dari Kensington International Airport, kami bertolak menuju pusat kota Sydney dan menginap selama seminggu di Sydney Central YHA Hostel untuk masa orientasi. Selama masa orientasi ini, banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari air minum gratis yang bisa saya ambil dari keran manapun di Sydney (ya, air keran di sini berkualitas sangat baik, sehingga aman untuk dikonsumsi langsung tanpa dimasak), jadi orang udik yang berkali-kali menghentakkan kaki di halaman Opera House – hanya untuk memastikan bahwa saya benar-benar berada di depan gedung kenamaan itu, didera masuk angin akut karena lambat beradaptasi dengan cuaca Sydney yang berubah-ubah dalam hitungan menit (saya tidak bercanda. Dalam sehari, saya diterpa empat musim sekaligus!), hingga perihal membiasakan diri memakai tissue setiap usai buang hajat.

Selama masa orientasi – yang artinya juga masa jalan-jalan sepuasnya, Deane dan Sue (nama kecil Suzan Piper) memberikan banyak arahan mengenai gaya hidup di Australia. Bagaimana mengatur keuangan dengan baik (selama program ini, kami diberi uang saku sebanyak 600 AUD, alias mepet banget untuk ukuran gaya hidup orang Sydney), menggunakan telepon ke kampung halaman, dan cara bergaul dengan orang Australia.

Kami juga berkesempatan untuk mengunjungi berbagai instansi resmi seperti Cultural Relations Commission, lembaga yang mengurusi hubungan antar komunitas lokal di New South Wales. Ada juga Affinity, salah satu komunitas muslim di Sydney – di sini juga banyak muslim Indonesia berkumpul. Lalu ada Department of Foreign and Trade Affairs, semacam Deplu-nya New South Wales. Menyenangkan bisa bertemu orang-orang hebat di sana, dan mempersembahkan beberapa pertunjukkan budaya seperti tari Saman Aceh dan lagu-lagu daerah Indonesia.

Selain itu, ada agenda jalan-jalan yang tentu saja ditempatkan paling atas dalam agenda pribadi saya. Darma wisata pertama saya adalah ke Darling Harbour, pelabuhan terkenal tempat banyak feri melabuhkan sauhnya, hanya 10 menit jalan kaki dari hostel. Dari Darling Harbour, kita bisa kemana saja di daerah New South Wales dengan berlayar naik feri.

Daerah ini sengaja dijadikan sentra wisata maritim. Di Darling Harbour, kita bisa mengunjungi Sydney Aquarium, Australia Natural History of Maritime Museum, mengadakan piknik/barbeque di sepanjang dermaga, dan tentu saja berlayar menyisir garis pantai Sydney selama kurang lebih 3 jam. Sayangnya, ketika mengunjungi Darling Harbour, Sydney Aquarium dan museum maritimnya sedang tutup. Jadi saya dan rombongan “hanya” bisa berlayar saja. Namun belakangan, saya merasa it’s a more-than-enough experience for me. Karena hanya dengan sekali berlayar, saya bisa melihat langsung Sydney Harbour Bridge, Opera House, dan tempat-tempat terkenal lain di Sydney.

Kami juga sempat mengunjungi kediaman Konsulat Jendral Indonesia untuk Sydney di daerah Rose Bay, daerah termahal di Sydney. Berada di kediaman orang Indonesia seperti berada di rumah sendiri. Terutama karena kita bisa menggunakan bahasa Indonesia tercinta. Sebab, tak dipungkiri, kadang bisa pusing sendiri kalau seharian bicara dengan bahasa Inggris tanpa henti.

Masih banyak pengalaman lain yang mungkin akan saya bagi dalam surat-surat berikutnya. Well, yang jelas, menjejakkan kaki di tanah Australia rasanya seperti mimpi. Sampai sekarang, saya masih merasa seperti berada di dunia yang tak nyata.

Sejak dulu, saya bercita-cita bisa pergi ke luar negeri. Entah untuk beasiswa sekolah, sekadar liburan, pertukaran pelajar, magang, seminar, bahkan bekerja. Namun, ratusan kali saya menjajal peruntungan untuk bisa menggapai mimpi itu, ratusan kali pula saya gagal. Dan ketika angan itu sudah jadi kenyataan, yang tersisa selain kesyukuran yang teramat sangat, hanyalah rasa tak percaya.

Ya, berhasil mengikuti program AIYEP ini adalah ajang pembuktian diri akan kekuatan mimpi. Dulu nafsu saya untuk meraih mimpi dan membuktikan kemampuan, selalu dihambat oleh berbagai kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan bahwa selalu ada kemungkinan untuk gagal. Saya membatasi diri saya sendiri dari hal-hal yang sebenarnya saya tahu saya bisa mewujudkan atau melakukannya.

Akan tetapi, sekarang saya bisa menaklukkan diri saya sendiri. Akhirnya saya benar-benar percaya bahwa tak ada mimpi yang tak bisa terpenuhi. Saya bahkan baru tahu bahwa saya bisa melakukan berbagai hal lebih banyak dan lebih baik dari yang pernah saya kira. Misalnya, saya bisa menari Jawa Timuran yang rancak dan penuh goyang dengan sangat baik – meski sempat kena encok juga, karena latihan yang terlalu keras sementara punggung saya tak begitu terbiasa. Saya juga ditunjuk untuk menjadi Group Leader, ketua kontingen AIYEP 2008/2009. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam daftar ambisi hidup saya.

Kini, ketika saya berhasil menantang diri saya sendiri, saya tahu saya bisa menantang dunia. Nidji bilang dalam lagunya untuk soundtrack film Laskar Pelangi, “mimpi adalah kunci untuk bisa menaklukkan dunia”… Benar sekali. Dan bagi saya, paling tidak sekarang ini, saya ingin bermimpi menaklukkan Australia.

See you on the other side…

* Dimuat di Harian Banjarmasin Post, 25 November 2008 – dengan sedikit penyuntingan